Saturday, September 1, 2012

Gunung Sumbing (24 Juni 2012)



Gunung terdingin dan trek terberat di Jawa Tengah saya taklukan Sabtu-Minggu bulan lalu.
Tidak menyangka saya bisa menginjakkan kaki saya di puncak Gunung Sumbing yang selalu terlihat dan menarik perhatian saya dari lantai 2 kampus saya.
Sebenarnya saya yang menyusun rencana dan menentukan jadwal untuk muncak Gunung Sumbing ini karena memang keinginan untuk menaklukanny begitu besar, saya sudah membayangkan jika berhasil menaklukannya, ketika melihat gunung gagah itu dari lantai 2 kampus saya, saya akan merasa bangga, dan dalam hati berkata, “Saya sudah berhasil menaklukannya.” Saya sudah tentukan hari Sabtu-Minggu sebelum ujian kami berangkat, dan teman saya setuju. Mulailah kami mengumpulkan masa untuk ikut dalam pendakian kami ini. Awalnya sekitar 10 orang akan ikut dalam perjalanan ini, tapi ya seperti biasa, melorot sampai hari-H, hanya 7 orang yang memutuskan untuk berangkat. Dan bisa ditebak, lagi-lagi saya “the single fighter” dalam penaklukan Gunung Sumbing ini, karena tau lah, betapa susahnya mengajak teman perempuan untuk ikut. Sehari sebelum pemberangkatan, saya persiapkan semua peralatan, dan memasukkannya ke dalam tas. Setelah itu saya angkat, dan beratnya. Saya timbang tas itu, dan tau berapa berat tas yang akan saya gendong sampai ke puncak, 7 kilo teman-teman. Tapi itu sih belum seberapa, karena temen saya kadang harus membawa beban 15-20 kilo, wow.
Tepat Sabtu siang jam 12 kami berangkat naik bis, tapi tidak langsung menuju basecamp karena sebelumnya kami harus kondangan dulu ke tempat temen di Temanggung. Alhasil baru sekitar jam 5 kami sampai basecamp kemudian mendaftar dan langsung melakukan perjalanan menuju puncak dengan bekal peta pendakian dan larangan-larangan dari basecamp. Sabtu itu ramai sekali karena banyak rombongan yang akan muncak, tapi ternyata kami rombongan pertama yang berangkat.
Betapa senangnya hati saya, lagi-lagi bisa merasakan sensasi naik gunung dengan teman-teman yang berbeda. Perjalanan awal bisa dibilang lancar karena kami belum menemukan trek yang sulit. Tapi setelah memasuki perkebunan tembakau warga, Masya Allah, treknya sangat terjal. Sudah terbayang betapa beratnya trek di depan mata saya ini dan saya tidak membayangkan bagaimana kami harus turun keesokan harinya. Banyak istirahat, ya itulah yang kami lakukan karena saya benar-benar tepar menaklukan trek Sumbing, ditambah lagi kaki yang sering kram karena jarang olahraga.
Perjalanan selama 8 jam kemarin sungguh menakjubkan, bagaimana kami merasakan betapa dinginnya Sumbing, sepinya, tapi tak lupa indahnya yang diberikan. Satu spot yang selalu terngiang di benak saya adalah pestan, Pasar Setan. Malam itu, saya tak habis pikir sama teman saya yang mengajak isrirahat lama di pestan, tapi ketakutan saya tertutup dengan rasa ngantuk yang sangat, sehingga saya selalu tertidur setiap istirahat. Batu-batu besar, tahan berpasir, dan jalan terjal kami lalui sekitar 8 jam, dan akhirnya kami memutuskan untuk nge-camp di Watu Kotak karena sudah kelelahan dan lapar. Tempatnya lumayan luas dan datar, sehingga kami bisa mendirikan 2 tenda. Setelah mendirikan tenda, kami membuat api unggun dan menyiapkan makan malam kami yang aduhai indahnya, di gunung lho, meskipun hanya pake mi instant.
Setelah mengisi perut yang sudah kosong, kami memutuskan untuk tidur karena paginya kami akan melanjutkan perjalanan munuju Puncak 3371 m dpl.
Pukul 5 pagi alarm saya berbunyi, tapi hanya saya matikan dan tertidur lagi sampai pukul 5.45. Pagi itu, saya buka pintu tenda, dan alam langsung menyuguhkan indahnya Gunung Sindoro pagi itu. Langsung saya bangunkan semua teman-teman untuk menikmati betapa indahnya ciptaan Tuhan ini. Kami benar-benar takjub dengan pemandangan yang Sumbing suguhkan pagi itu. Jika sebelumnya Sumbing hanya bisa saya nikmati dengan memandangnya, tapi kemarin saya menginjakkan kaki saya disana. Dan hari itu adalah hari keberuntungan saya, karena akhirnya saya dapatkan sunrise yang indah dari gunung, tanpa ada kabut sama sekali. Terimakasih Tuhan atas kesempatan itu.
Tak cukup sampai disitu saja keindahan dan pesona alam dari Gunung Sumbing. Pukul 8 pagi setelah sarapan dan puas menikmati pemandangan dari Watu Kotak, kami melanjutkan perjalanan ke Puncak Sumbing, tapi tak semua orang dari rombongan kami berangkat, 2 orang tetap tinggal di tenda karena katanya nggak sanggup sama tebing-tebing yang harus dilalui. Jadilah kami berangkat berlima, namun ada tambahan 2 orang yang bareng dari luar rombongan kami. Berangkatlah kami bertuju menaklukan Puncak Sumbing.
Treknya tidak jauh beda dengan trek yang kami lalui malam sebelumnya, bebatuan terjal, dan ditambah dengan tebing-tebing yang kanan dan kirinya jurang. Tapi perjuangan menuju puncak itu sangat terbayar dengan indahnya puncak Sumbing. Tuhan ciptaanMu memang menakjubkan.
Setelah puas di atas, kami turun menuju tempat camp, dan mulai membereskan barang-barang kami, siap untuk turun. Inilah saat-saat terberat buat saya, jalan turun yang sudah menanti. Meskipun energy yang dibutuhkan lebih sedikit, tapi susahnya melebihi saat naik. Belum lagi trek tanah berpasir yang tidak saya sukai, panjang sekali, berkali-kali harus jatuh, dan mereka para lelaki itu malah menertawakan saya bukannya dibantuin. Disinilah cerita saya, bisa dibayangkan trek sesulit itu harus saya lalui sendirian, mereka dengan teganya meninggalkan saya jauh, kawan, sungguh tidak berperikemanusiaan, meninggalkan perempuan satu-satunya dalam rombongan, tega dan jahat sekali mereka-mereka itu sama saya. saya ditinggal dari pos 2 sampai pos 1, mereka dengan santainya tiduran di pos 1 sambil menunggu saya.
Lagi-lagi kehabisan air, dan kami harus tetap bertahan sampai bawah dari pos 2 tanpa air, kawan. Jalan terjal saat naik harus kami lalui turun. Padahal kaki ini sudah tak sanggup lagi melangkah, belum lagi lutut-lutut yang sering nekuk sendiri menjadi penghalang. Ingin rasanya segera mengakhiri perjalanan turun ini, kenapa berat sekali rasanya. Ya Allah Tuhan, berats sekali trek Sumbing.
Jam 5.30 sore akhirnya kami sampai di bawah. Terimakasih Tuhan karena akhirnya kami sampai di bawah dengan selamat tanpa suatu kekurangan apapun. Langsung mencari warung terdekat, dan habislah minum sebotol karena saking hausnya.
Sempat terbersit dalam pikiran saya untuk tidak lagi-lagi menaklukan gunung terdingin ini. Tapi entahlah, akan saya ikuti saja kemana kaki ini akan melangkah. Jika dia melangkah, tak akan kupaksa untuk melawan……….
Terimakasih atas trek dan indah yang disediakan, Sumbing…………….
Dan sudah kusiapkan mimpi-mimpi penaklukan selanjutnya yang siap untuk diwujudkan. 

Gunung Sindoro (15 April 2012)


 
Inilah puncak tinggi pertama saya……………
Ajakan salah seorang teman laki-laki saya untuk muncak ke Gunung Sindoro siang itu, tidak bisa saya tolak. Saya langsung saja mengiyakan ajakan dia meskipun saya belum ijin sama orang tua. Saya pikir, ah pasti dapet ijinlah, orang perginya kan juga bareng-bareng.
Teman saya itu memang tau kalau saya suka sekali sama gunung dan memiliki ketertarikan untuk mendaki, makanya dia menawarkan saya untuk gabung di acaranya ke Gunung Sindoro. Sebenernya nggak ada acara khusus sih, cuma naik gunung biasa aja, cuma mengisi akhir pekan.
Awalnya saya sempet takut untuk ikut gabung dengan mereka karena baru-baru ini Gunung Sindoro ditutup karena aktifitas belerang di kawahnya meningkat dan menimbulkan bahaya kalau ada yang mendaki. Makanya saya pastikan dulu ke temen saya itu, apa sudah aman naik Sindoro, dan dia memestikan aman. Teman saya yang lain ini adalah penunjuk jalan kami di Gunung Sindoro, karena dia adalah anak asli kaki Gunung Sumbing dan Sindoro dan sudah mendaki Sindoro 4 kali. Hebat ya, dan mau mengulang gunung yang sama berkali-kali. Salut saya……..
Setelah itu saya ijin ke orang tua, dan mereka mengizinkan karena saya bilang akan banyak orang yang ikut dan nggak hanya laki-laki, tapi ada perempuannya. Awalnya sekitar 9 orang yang akan muncak bersama-sama. Tapi semakin mendekati hari H, satu per satu membatalkan rencananya untuk gabung ke Sindoro dengan berbagai alasan. Rencana awal yang akan 9 orang, langsung melorot tinggal 3 orang, dan disitu hanya saya perempuannya. Saya khawatir kalo bilang ke orang tua saya bahwa hanya 3 orang yang mendaki dan saya satu-satunya perempuan disitu, saya tidak akan mendapatkan ijin mereka untuk muncak. Saya tidak mengabari mereka dulu, saya mencari cara agar dapet teman perempuan minimal 1 yang mau bergabung dengan kami. Tapi sayang sekali, saya tak mendapatkan satu teman perempuan pun yang bersedia ikut. Hampir pupus harapan saya menaklukan gunung tinggi pertama saya, gunung yang memiliki ketinggian 3136 m dpl ini.
Tapi saya tak kehabisan akal, saya putar otak mencari cara agar saya tetap berangkat muncak. Saya temukan ide, langsung saya SMS sepupu laki-laki saya di Klaten yang kebetulan sedang cuti. Saya ajak dia ikut muncak bersama saya, dan dia setuju. Akhirnya terwujud juga mimpi saya untuk mencapai puncak gunung tinggi…………..
Mendekati hari-H, saya mempersiapkan semua perlengkapan yang dibutuhkan, saya pinjam tenda, sleeping bag, persiapan makanan, baju, spirtus, dan semuanya. Saya sangat bersemangat mempersiapkan semuanya, yang ada dalam pikiran saya hanyalah puncak, puncak, dan puncak. Puncak Sindoro tunggu aku, hanya kata-kata itu yang ada di otak saya.
Saatnya tiba, saya janjian dengan 2 teman lainnya untuk ketemuan di rumah teman saya itu di Wonosobo, saya naik bis dengan sepupu saya itu. Sampai hari pendakian, ternyata hanya 4 orang yang siap mendaki, dan kami memutuskan untuk tetap mendaki. Dan saya adalah “the single fighter” karena, ya, saya satu-satunya perempuan dalam pendakian kala itu. Tapi jelas saya sudah mendapatkan ijin dari orang tua saya, karena trik mengajak sepupu laki-laki saya itu berhasil. Hehehehehehe
Saya dan sepupu berangkat dari rumah pukul 8, dan perjalanan menuju desa Kledung memakan waktu sekitar 2 jam. Sampai di rumah teman saya, kami istirahat sebentar sambil menunggu waktu mendaki yaitu setelah dhuhur karena teman saya memang memiliki trek favorit siang hari.
Jam 1.30 p.m. kami berangkat menuju basecamp pendakian dengan membawa tas kami masing-masing. Kami mendaftarkan diri dan ternyata sudah ada 6 orang dari UNNES yang lebih dulu mendaki. Jadi setidaknya ada teman lah di puncak, udah ada yang bikin api unggun buat penghangat, itu pikiran saya saat itu.
Pukul 2 p.m. kami mulai menyusuri jalur pendakian yang diawali dengan trek yang masih mudah, dikelilingi oleh perkebunan warga sepanjang jalan dengan pemandangan yang sangat eksotis, dengan latar belakang Gunung Sumbing yang megah berdiri di belakang kami, kami memulai perjalanan dengan mantap dan senang. Perkebunan warga lumayan banyak mengambil waktu kami, jarak tempuhnya sekitar 1 jam sebelum kami memasuki gerbang gunung, dan langsung menghadapi trek hutan pinus. Indah, itu yang bisa saya katakan.
Saya sudah merasa ada sesuatu yang salah dengan teman saya yang lain. Baru sampai perkebunan warga, dia sudah meminta banyak istirahat. Padahal jalannya masih mendatar, belum menanjak, tapi dia selalu meminta istirahat. Masuk ke hutan pinus, jalan mulai terjal dan energy yang dibutuhkan pun semakin banyak. Tak jarang saya meminta untuk istirahat karena memang treknya yang aduhai beratnya. Teman saya yang lainnya mulai lagi menunjukkan tanda-tanda kelelahan, semakin sering berhenti saat berjalan.
Setelah berjalan beberapa jam, melewati pos-pos sambil memasang marker pada pohon-pohon untuk memberi tanda teman saya yang akan mendaki keesokan harinya setelah kami, sampai lah kami di pos 4, pos terakhir sebelum puncak. Kami menempuh waktu 5 jam pendakian. Tapi jangan salah, meskipun itu pos terakhir, bukan berarti puncak sudah sangat dekat, karena jarak antar pos 1 sampai pos 4 dengan pos 4 sampai puncak bisa dikatakan sama. Sehingga pos terakhir itu adalah setengah dari perjalanan kami. Kalau dihitung-hitung, kami menempuh waktu normal untuk sampai pos 4, sekitar 5 jam.
Kami sampai di pos 4 sekitar pukul 7 malam. Dengan keadaan yang sudah gelap karena sinar matahari yang berganti peran dengan rembulan untuk menerangi bumi di malam hari, kami memakai bantuan senter untuk menerangi perjalan kami menuju puncak. Karena suasana yang gelap dan agak basah karena hujan turun sebelumnya, kami tak melihat seperti apa trek yang kami lalui. Saya hanya tau, banyak batu-batu disana, dan kami harus menaiki batu itu satu persatu. Tak jarang saya harus meminta bantuan untuk menaiki bebatuan itu.
Di trek inilah kami benar-benar menghabiskan banyak waktu karena teman saya yang sering meminta istirahat itu, dia mendaki dalam tempo yang sangat lambat dan semakin banyak meminta istirahat, padahal hari semakin malam, semakin dingin, dan kabut mulai naik. Kami berniat untuk menyelesaikan pendakian sampai puncak, tapi apa daya, teman saya itu tak sanggup lagi melanjutkan perjalanan karena kelelahan dan mengeluh kakinya sakit dan sedang tidak enak badan. Yang ada dalam pikiran saya saat itu, kenapa ikut muncak kalo lagi nggak enak badan sama kakinya sakit.
Terpaksa kami mencari tanah lapang untuk mendirikan tenda. Selepas pos 4 sampai puncak itu sangat sulit mencari tanah datar yang lapang untuk mendirikan tenda, kami harus berjalan sekitar sejam untuk mendapatkan tempat yang sedikit lapang. Satu-satunya tanah yang agak luas sudah ditempati pendaki lain yang tidak lain adalah 6 orang dari UNNES itu. Hahahaha kami gagal mendapatkan api unggun ternyata, karena mereka ternyata tidak menyelesaikan pendakian. Akhirnya kami menemukana tanah yang agak datar dan bisa digunakan untuk mendirikan tenda, dan kebetulan juga kabut sudah mengelilingi kami dan tidak memungkinkan melanjutkan perjalanan ke puncak karena jarak pandang yang sangat terbatas tertutup kabut, kami memutuskan untuk mendirikan tenda di tempat itu, tempatnya agak landai dan sempit, hanya muat untuk mendirikan satu tenda saja, dan itu pun tenda kecil.
Setelah mendirikan tenda, saya memutuskan untuk langsung tidur, karena badan saya yang sudah lelah mendaki selama 10 jam, sedangkan 3 yang lain memasang peralatan masak dan siap memasak mi instan yang dibawa dan saya sudah siap tidur di dalam sleeping bag saya.
Entah jam berapa mereka menyusul saya ke tenda. Saya sudah tidur terlelap. Tenda yang sebetulnya hanya berkapasitas 2 orang, dengan terpaksa kami isi 4 orang karena tempat yang sangat terbatas. Rasanya sangat sumpek, bernapas aja rasanya susah, kami harus membagi oksigen untuk berempat.
Sekitar pukul 2 dini hari saya terbangun dengan posisi tenda tepat di muka saya dan kaki yang jatuh ke bawah. Tendanya pasti jalan dan mau jatuh ini, saya yakin karena tenda kami tidak dipasang patok sama sekali. Saya bangunkan semua yang ada si dalam tenda dan saya suruh mereka keluar untuk membenarkan posisi tenda dan mematoknya agar tidak jalan, bisa-bisa kami jatuh ke bawah kalo tidak segera dibenarkan. Dingin-dingin kami keluar demi membenarkan tempat tidur ternyaman kami di gunung, dan kembali ke dalam tenda untuk menikmati dinginnya gunung yang selalu saya rindukan.
Setengah jam setelah kembali ke dalam tenda, hujan pun turun. Untung tenda yang kami pakai terbuat dari parasit, jadi badan ngaak kebasahan, Cuma SBnya aja.
Sekitar pukul 05.30 saya bangun dan melihat indahnya pagi dari gunung Sindoro. Sensasi seperti ini baru saya rasakan sekali, dan benar-benar mengagumkan. Sumbing yang malu-malu tertutup kabut perlahan-lahan mulai menampakkan dirinya yang gagah dan siap untuk didaki. Tapi sayang sekali, pendakian saya kali itu bukan keberuntungan buat saya, karena lagi-lagi, saya tak mendapatkan sunrise yang selalu saya impikan.
Pukul 6 pagi saya dan sepupu saya memulai kembali perjalanan kami menuju puncak Sindoro. Setelah berjalan beberapa waktyu, teman saya Ari menyusul dan kami muncak bertiga. Satu teman saya tetap di tenda karena dia tidak sanggup melanjutkan perjalanan. Dengan susah payah saya mencapai puncak yang katanya tinggal sejam perjalanan, tapi karena saya yang tidak kuat, akhirnya perjalanan menuju puncak kami tempuh dalam waktu 3 jam,hehehehe. Makasih ya mas, kamu nggak ninggalin aku.
Sampai di puncak, pemandangan yang disuguhkan Sindoro benar-benar memukau, kawan. Merapi, Merbabu, Andong, Telomoyo, Sumbing, Ungaran, dan Slamet, semuanya menampakkan dirinya. Setelah puas menikmati puncak Sindoro selama kurang lebih 15 menit, kami kembali ke tenda. Kami bersiap-siap untuk turun dan sebelumnya menikmati sarapan kami yang sangat telat. Kami mulai turun sekitar pukul 12 siang.
Perjalanan turun sungguh sangat berat, karena kaki kami harus menahan langkah. Saya dan sepupu saya sangat tidak menyangka bahwa semalem kami melewati trek yang sungguh menantang, bebatuan. Trek yang tidak saya sukai menjadi momok bagi saya, trek tanah berpasir dan berkerikil karena saya jatuh dan ada oleh-oleh deh dari Sindoro, lecet-lecet dan biru-biru. Sampai pos 2 kami kehabisan air dan tetap harus melanjutkan perjalanan turun tanpa air. Saya dan sepupu saya berjalan lebih dulu meninggalkan 2 teman saya karena kami mengejar waktu takut kehabisan bis. Sampai di bawah, langsung saya ke pinggir jalan dan menunggu bis. Dan lagi-lagi kami sial, dibohongi kernet engkel yang bilang bisnya sampe Magelang, tapi kami diturunin di Parakan. Spontan sepupu saya marah-marah ke kernet di pinggir jalan. Tapi untungnya setelah itu, masih ada bis yang ke Magelang.

Setiap perjalanan akan selalu memberikan ceritanya sendiri-sendiri. Dan inilah Sindoro…………….

Gunung Telomoyo (24 Maret 2011)


 
“Besok Sabtu aku mau camping lho sama murid-muridku di Gunung telomoyo.”
Isi SMS dari sahabat saya yang notabene seorang guru di sebuah madrasah di Temanggung yang berhasil membuat saya iri. Saya sangat paham kalau tujuan dis mengirim pesan itu ke saya, ya untuk pamer dan bikin saya iri, dan dia berhasil. Setelah mendapat SMS itu, langsung saya balas, “ikutttt.’ Dan dia membolehkan saya ikut. Haaaa senangnya saya saat itu karena bayang-bayang akan mencapai puncak, lagi-lagi puncak, my personal intention. Awalnya ada satu syarat yang harus saya lakukan jika memang ikut dalam perjalanan kali ini, yaitu berkerudung, karena murid-muridnya semua berkerudung, jelas karena mereka adalah anak-anak pesantren. Dan saya menyanggupi syarat itu, istilahnya, saya rela deh ngelakuin apa aja asal sampe ke puncak gunung. Termasuk memakai jilbab yang tidak pernah saya pakai sehari-hari. Tapi ternyata, saya tidak perlu memenuhi syarat itu, asalkan pakaian saya sopan dan pantas, itu sudah cukup.
Setelah itu, kami janjian untuk bertemu di terminal Grabag, kemudian melanjutkan perjalanan dengan kendaraan umum dari sana menuju rumah muridnya yang terdekat dengan gerbang Telomoyo. Saya tiba di terminal pukul 4 sore, dan menunggu beberapa muridnya terlebih dahulu sambil berkenalan dengan murid-murid perempuannya, tidak ada murid laki-laki disana, karena yang laki-laki sudah terlebih dahulu ke rumah muridnya itu. Saya pun berkenalan dengan teman gurunya yang menjadi Pembina ekskul pecinta alam di sekolah teman saya itu. Akhirnya waktu untuk naik angkot tiba, karena semua murid perempuan sudah tiba.
Sekitar 30 menit perjalanan kami tiba tepat di depan rumah murid teman saya itu. Kami istirahat disana sebelum mendaki Gunung Telomoyo. Rencananya kami akan mendaki setelah isya. Inilah pendakian malam pertama saya.
Ada kejadian lucu saat kami tiba di rumah murid teman saya itu. Karena teman saya itu laki-laki, semua muridnya seperti membicarakan kami berdua sejak kedatangan kami. Dan kami sadar saat itu kami sedang menjadi tranding topic bagi mereka. Tapi tak apalah, toh hanya sekedar gossip saja. Saya memang sangat dekat dengan teman laki-laki saya yang satu ini.
Setelah beribadah dan mengisi perut untuk persiapan muncak, kami pun mulai dengan membawa tas kami masing-masing. Saya sudah siap dengan jaket, sarung tangan, dan kaos  kaki saya karena pendakian malam, jadi saya pikir udaranya akan sangat dingin. Tapi saya salah, baru berjalan beberapa ratus meter, saya sudah merasa sumpek dengan segala perlengkapan penghangat tubuh yang saya pakai. Akhirnya saya lepas jaket, kaos kaki, dan sarung tangan itu. Alhasil saya hanya memakai celana panjang dan kaos selama pendakian, tapi saya bisa menikmati udara segar bahkan dingin yang diberikan gunung malam itu.
Karena ini adalah pendakian malam saya yang pertama, saya merasa takjub dan tertegun dengan pesona malam dari gunung. Lampu-lampu kota yang begitu indahnya, sangat sayang untuk dibiarkan begitu saja tanpa dinikmati keindahan yang dipancarkannya. Bahkan beberapa kali kami mendapatkan kesempatan untuk melihat betapa indahnya petir dari puncak Gunung Ungaran, menakjubkan. Semua pemandangan malam itu tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Cobalah sendiri sensasi malam di gunung, dan anda akan terkesima.
Dengar-dengar tinggi Gunung Telomoyo tidak beda jauh dengan Gunung Andong, katanya hanya beda 100 meter. Makanya saya pikir, ah mungkin hanya berjalan sekitar 2 jam lah, tidak beda jauh sama naik Andong. Tapi ternyata saya salah besar. Tinggi Gunung Andong yang hanya 1463 berbeda sekitar 400 meter dengan Telomoyo yang memiliki ketinggian 1894 m dpl. Jarak tempuhnya pun 2 kali lipat dari gunung Andong, kami harus berjalan 4 jam untuk sampai puncak. Pantas saja saya ngerasa jalan kok lama sekali, sudah berjalan selama 2 jam tapi tak ada tanda-tanda mencapai puncak sama sekali.
Jalan yang kami lalui di Gunung Telomoyo sudah terbilang sangat bagus karena sudah beraspal sehingga kami tak perlu bersusah-susah naik meskipun trek malam hari. Ditemani lampu senter yang cukup untuk menerangi kami yang berjumlah 33 orang, kami mengambil banyak kayu untuk persediaan api unggun di puncak yang pastinya akan sangat dingin.
Setelah 4 jam kami lalui sambil berbagi cerita dan keceriaan, akhirnya kami sampai di puncak, puncak ketiga saya. dah Oh God thanks for this, itulah yang saya rasakan saat menginjakkan kaki di puncak Gunung Telomoyo sekitar pukul 23.30. Dengan jalan yang tidak terlalu terjal dan ternyata melingkar, kami hanya 3 kali beristirahat selama perjalanan. Yang membuat jarak tempuh gunung ini menjadi 2 kali lipat dari Andong adalah jalan yang melingkar itu, jadi kami seperti mengelilingi gunung. Tapi trek malam sama sekali tidak memberikan rasa capek buat saya, apalagi ketika berhasil sampai puncak, kepuasan lah yang hanya ada dalam diri saya.
Sampai di puncak, kami mendirikan tenda dan memasak karena memang perut ini sudah sangat keroncongan meskipun sudah terisi sebelum naik. Kami langsung memasak bekal yang kami bawa dari bawah sambil menikmati api unggun di tengah tenda laki-laki dan perempuan. Ya jelas, karena saya mendaki dengan anak-anak pesantren, tidak mungkin laki-laki dan perempuan menjadi satu. Asik menikmati makan malam kedua kami, tiba-tiba datang 3 orang dengan motornya. Gunung Telomoyo memang bisa ditempuh dengan kendaraan sampai puncak. Kami sangat ketakutan dengan para tamu yang tak diundang itu karena saya yakin sekali mereka semua dalam keadaan mabuk. Semalaman saya tidak bisa tenang sampai mereka pergi. Di dalam tenda pun saya tidak bisa tidur sama sekali meskipun saya sudah siap tidur di dalam sleeping bag saya. tapi rasa khawatir dan berisik dari para tamu-tamu itu membuat saya tak bisa benar-benar memejamkan mata saya, bahkan untuk sejenak. Entah teman saya itu tidur nyenyak atau tidak di tenda satunya.
Akhirnya sekitar jam 4 subuh mereka meninggalkan tempat camping kami, tapi ya percuma jika saya istirahat karena sebentar lagi waktunya sang surya menampakkan dirinya dari tempat persembunyiannya, tentu saya tidak ingin melewatinya. Lagi pula, meskipun sudah memakai sleeping bag, saya tetap merasa kedinginan terutama pada bagian telapak kaki meskipun sudah berkaos kaki, tapi tetap saja udara dingin yang memenangi perang itu. Ya sudah, saya putuskan untuk tidak tidur saja. Gara-gara 3 tamu itu, saya jadi tidak bisa istirahat sama sekali. Tapi tak apalah demi pemandangan indah pagi itu.
Pukul 5 pagi kami keluar dari tenda dan bersiap menikmati keluarnya matahari dari cakrawalanya. Saya sudah bersiap di luar lengkap dengan jaket, kaos kaki, dan sarung tangan karena udara masih sangat dingin menunggu saat-saat matahari menampakkan dirinya pada dunia. Tapi sayang sekali, lagi-lagi pagi itu bukan pagi keberuntungan saya, kabut yang setia menemani kami dari malam, tak kunjung pergi dan membiarkan matahari memperlihatkan kecantikannya pagi itu. Puncak ketiga saya pun gagal menjadi sunrise pertama saya.
Akhirnya sambil menunggu udara tidak terlalu dingin, kami memasak bekal untuk sarapan, hitung-hitung untuk mengganjal perutlah. Saya hanya memakan roti yang saya bawa dari rumah sebagai menu sarapan saya pagi itu. Saya tidak ingin memasak karena hanya ada satu panci dan spirtus. Dan saya malas mengantri dengan yang lain. Saya baru tahu bagaimana memasak dengan spirtus saat di gunung ya pada saat itu.
Setelah sarapan, kami menuju tempat yang bisa disebut gardu pandang Gunung Telomoyo, dimana kita bisa melihat pemandangan menakjubkan dari sana. Awalnya hanya kabut putih yang kami lihat. Tapi lama kelamaan kabut itu menyingkir dan memberikan ruang untuk alam disana agar bisa kami nikamati. Wow, itulah kata pertama yang keluar dari mulut saya ketika kabut mulai pergi. Bisa anda bayangkan, Gunung Semeru, Sindoro, Ungaran, Andong, dan Rawa Pening berkolaborasi menempakkan keindahannya pagi itu. Inilah puncak terindah saya, pikir saya saat itu, mengalahkan Gunung Bromo bahkan. Benar-benar amazing. Saya merasa beruntung karena bisa mendapatkan tempat seindah itu, salah satu surga di dunia ini mungkin. Keindahannya belum selesai sampai disini, saat kabut hanya sekedar lewat di bawah kami, keindahan gunung-gunung itu semua menjadi semakin lengkap dengan adanya pelangi yang melingkar di bawah kami, sempurna.
Saya benar-benar takjub dan amazed saat bisa mendapatkan pemandangan seindah itu. Tuhan kenapa bisa menciptakan tempat seindah itu. Saya sangat bersyukur karena bisa berada di salah satu negeri di atas awan karena tak semua orang bersedia melakukannya. Pengalaman yang tak terlupakan.
Jika saat berangkat saya dapati indahnya malam, lain lagi dengan pulang, saya dapati keindahan alam pagi hari. Jika saat malam saya hanya bisa menikmati lampu-lampu kota, saat pagi bukan lagi lampu-lampu kota yang saya dapatkan, tapi alam semesta dengan segala keindahannya. Matahari pagi yang menyinari alam ini membuat semua yang saya lihat menjadi sempurna. Perjalanan yang sangat indah, sayang sekali jika dilewatkan, bahkan sejengkal pun. Setiap langkah kaki ini memberikan kepuasan dan kebahagian sendiri yang tak terkira.
Perjalanan turun tak mengahabiskan waktu yang sama dengan berangkat, kami hanya membutuhkan waktu 2,5 jam untuk sampai lagi di rumah murid teman saya itu. Meskipun waktu yang lebih singkat dan energinya tak sebanyak saat naik, tapi justru saat turun itu lebih berat. Kaki rasanya gemetaran semua. Tapi pemandangan yang ada membuat perjalanan pulang sangat berkesan.
Inilah puncak ketiga saya, Telomoyo 1894 m dpl. Dan menyusul puncak-puncak berikutnya.
Gunung selalu berhasil membuat saya takjub……………..

Gunung Andong (15 Januari 2012)


 
Perjalanan menggapai puncak saya berlanjut tak lama setelah saya berhasil mencapai puncak pertama saya, puncak 2392 m dpl, puncak Bromo. Sekitar 2 minggu setelah keberhasilan itu, saya diajak salah satu teman saya untuk mengikuti acara kemah di kaki gunung Andong dalam acara penanaman pohon yang diadakan oleh Forum Komunikasi Kader Konservasi Indonesia di Jawa Tengah. Tanpa pikir panjang, saya mengiyakan ajakan teman saya itu, karena saya suka camping, lagipula di kaki gunung Andong, gunung yang belum berhasil saya taklukan.
Sebenarnya beberapa bulan sebelumnya, saya pernah berkunjung ke gunung ini bersama beberapa teman saya. Kami berniat untuk mendaki Gunung Andong. Tapi ternyata kami salah gunung, bisa dibayangkan, mendaki tapi salah gunung. Ya kami salah karena tak ada satu pun dari kami yang pernah mendaki gunung Andong dan kami nekat mendaki dengan hanya bermodalkan satu orang teman anggota mapala yang mungkin saja tahu bagaimana untuk mencapai puncak. Tapi perkiraan kami salah, kami bukan melalui jalan yang benar, kami hanya menaiki lereng-lerengnya yang bukan main sulit untuk didaki, karena kami harus menaiki medan tanah yang terjal. Itulah pendakian gunung Andong saya yang pertama tetapi tak berhasil sampai ke puncak.
Saya berangkat dari kampus sore hari dan langsung menuju ke tempat perkemahan di kaki gunung Andong dengan motor berboncengan dengan teman yang mengajak saya. Perjalanan kami lalui selama kurang lebih satu jam. Mendekati lokasi perkemahan, jalan yang harus kami lalui lumayan terjal, dengan 2 orang yang membawa barang cukup banyak, ternyata motor saya tidak kuat membawa kami berdua. Terpaksa saya turun dari motor dan berjalan dengan teman lain yang motornya juga tidak kuat. Tapi beruntung ada mobil bak terbuka yang mau menolong kami, mengantarkan kami sampai di gerbang bumi perkemahan, sehingga kami tak perlu susah-susah berjalan naik. Sampai di lokasi, sudah banyak teman yang menunggu di dalam tenda  yang datang terlebih dahulu dan juga peserta lain yang berasal dari berbagai kota di Jawa Tengah. Karena hujan mengguyur kawasan Grabag cukup deras, tempat dimana gunung Andong kokoh berdiri, kami tak melakukan aktivitas apapun sampai malam hari saat hujan reda. Setelah hujan reda, kami berkumpul mengelilingi api unggun yang sebelumnya telah dibuat oleh panitia dan kami melakukan sedikit upacara dan mendengarkan sambutan-sambutan sebagai acara pembukaan. Setelah itu kami hanya mengobrol dan saling berkenalan dengan peserta lain hingga larut malam.
Malam semakin gelap tapi tak segelap warna hitam karena ada cahaya bulan yang menemani tidur kami. Kami bersiap tidur di dalam Sleeping Bag kami masing-masing karena udara yang cukup dingin dan kebetulan tenda kami bukan tenda yang tertutup, terbuka sangat lebar di kedua sisinya. Tapi beruntung udara kaki gunung tak sedingin udara di puncak, sehingga saya tetap merasakan hangat dalam sleeping bag saya.
Pagi menjelang, kami bangun dan mempersiapkan diri kami. Menyiapkan makanan untuk sarapan pagi, ya menyiapkan makanan special pendakian, mie instant. Setelah makan, kami melakukan olahraga ringan sebagai pemanasan sebelum pendakian dan menanam pohon di Gunung Andong. Kami bersenang-senang dan bercanda.
Sampai tiba saatnya pukul 8, waktunya kami naik gunung dan bersiap menanam pohon. Kami berangkat bersama-sama tanpa dibentuk kelompok-kelompok karena gunung Andong yang tingginya tidak terlalu menjulang, hanya 1463 m dpl, dan medan yang tidak terlalu menyusahkan, bukan seperti medan yang harus saya lalui bersama teman-teman saat salah gunung. Ada sedikit kendala saat saya mulai mendaki, jari-jari kaki kanan terasa kram, mungkin karena saya belum terbiasa dan jarang olahraga. Tapi itu bukan jadi masalah besar karena saya tetap bisa melanjutkan pendakian. Saya bertekad harus mencapai puncak pada pendakian kali ini, karena pendakian pertama saya yang bisa dikatakan gagal.
Pendakian pagi hari ternyata sangat berat, karena saya seperti kehabisan tenaga, treknya yang terus menanjak tanpa ada bonus satu pun menjadi trek saya pagi itu. Beruntung di tengah-tengah perjalanan, ada 2 sumber air dari pipa, sehingga bisa menjadi pengisi energi. Setelah minum beberapa tegukan air itu, badan menjadi segar kembali dan semangat yang mulai luntur itu muncul kembali, tekad untuk mencapai puncak pun semakin besar. Pokoknya saya harus sampai puncak, itu yang terus ada di pikiran saya saat itu.
Setelah berjalan sekitar 1,5 jam, saya memutuskan untuk menanam pohon di tanah itu. Saya meminta sebatang pohon pada seorang teman, dan menanamnya disana. Semoga pohon yang saya tanam bersama teman-teman bisa menjadi penopang kelangsungan Gunung Andong untuk tetap berdiri dan memancarkan pesonanya pada kami dan bisa menjaga ekosistem yang ada di Gunung Andong. 2 jam perjalanan yang ditemani kabut tebal di sekeliling kami akhirnya berakhir di puncak yang penuh dengan kabut pula, sehingga kami sama sekali tidak mendapatkan pemandangan indah Gunung Telomoyo dan Merbabu. Tapi tak mengapa, kepuasan saya untuk mencapai puncak tetap tinggai dan hasrat saya untuk menaklukan puncak Andong sudah terpenuhi hari itu juga. Terimakasih Tuhan karena saya mencapai puncak kedua saya.
Kepuasan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata akan selalu saya dapatkan setiap saya mencapai puncak gunung. Itu seperti perasaan bahagia yang tak terkira karena sanggup menaklukan gunung yang tinggi menjulang.
Gunung, yang selalu mampu membuat saya jatuh hati……………..