Saturday, September 1, 2012

Gunung Sindoro (15 April 2012)


 
Inilah puncak tinggi pertama saya……………
Ajakan salah seorang teman laki-laki saya untuk muncak ke Gunung Sindoro siang itu, tidak bisa saya tolak. Saya langsung saja mengiyakan ajakan dia meskipun saya belum ijin sama orang tua. Saya pikir, ah pasti dapet ijinlah, orang perginya kan juga bareng-bareng.
Teman saya itu memang tau kalau saya suka sekali sama gunung dan memiliki ketertarikan untuk mendaki, makanya dia menawarkan saya untuk gabung di acaranya ke Gunung Sindoro. Sebenernya nggak ada acara khusus sih, cuma naik gunung biasa aja, cuma mengisi akhir pekan.
Awalnya saya sempet takut untuk ikut gabung dengan mereka karena baru-baru ini Gunung Sindoro ditutup karena aktifitas belerang di kawahnya meningkat dan menimbulkan bahaya kalau ada yang mendaki. Makanya saya pastikan dulu ke temen saya itu, apa sudah aman naik Sindoro, dan dia memestikan aman. Teman saya yang lain ini adalah penunjuk jalan kami di Gunung Sindoro, karena dia adalah anak asli kaki Gunung Sumbing dan Sindoro dan sudah mendaki Sindoro 4 kali. Hebat ya, dan mau mengulang gunung yang sama berkali-kali. Salut saya……..
Setelah itu saya ijin ke orang tua, dan mereka mengizinkan karena saya bilang akan banyak orang yang ikut dan nggak hanya laki-laki, tapi ada perempuannya. Awalnya sekitar 9 orang yang akan muncak bersama-sama. Tapi semakin mendekati hari H, satu per satu membatalkan rencananya untuk gabung ke Sindoro dengan berbagai alasan. Rencana awal yang akan 9 orang, langsung melorot tinggal 3 orang, dan disitu hanya saya perempuannya. Saya khawatir kalo bilang ke orang tua saya bahwa hanya 3 orang yang mendaki dan saya satu-satunya perempuan disitu, saya tidak akan mendapatkan ijin mereka untuk muncak. Saya tidak mengabari mereka dulu, saya mencari cara agar dapet teman perempuan minimal 1 yang mau bergabung dengan kami. Tapi sayang sekali, saya tak mendapatkan satu teman perempuan pun yang bersedia ikut. Hampir pupus harapan saya menaklukan gunung tinggi pertama saya, gunung yang memiliki ketinggian 3136 m dpl ini.
Tapi saya tak kehabisan akal, saya putar otak mencari cara agar saya tetap berangkat muncak. Saya temukan ide, langsung saya SMS sepupu laki-laki saya di Klaten yang kebetulan sedang cuti. Saya ajak dia ikut muncak bersama saya, dan dia setuju. Akhirnya terwujud juga mimpi saya untuk mencapai puncak gunung tinggi…………..
Mendekati hari-H, saya mempersiapkan semua perlengkapan yang dibutuhkan, saya pinjam tenda, sleeping bag, persiapan makanan, baju, spirtus, dan semuanya. Saya sangat bersemangat mempersiapkan semuanya, yang ada dalam pikiran saya hanyalah puncak, puncak, dan puncak. Puncak Sindoro tunggu aku, hanya kata-kata itu yang ada di otak saya.
Saatnya tiba, saya janjian dengan 2 teman lainnya untuk ketemuan di rumah teman saya itu di Wonosobo, saya naik bis dengan sepupu saya itu. Sampai hari pendakian, ternyata hanya 4 orang yang siap mendaki, dan kami memutuskan untuk tetap mendaki. Dan saya adalah “the single fighter” karena, ya, saya satu-satunya perempuan dalam pendakian kala itu. Tapi jelas saya sudah mendapatkan ijin dari orang tua saya, karena trik mengajak sepupu laki-laki saya itu berhasil. Hehehehehehe
Saya dan sepupu berangkat dari rumah pukul 8, dan perjalanan menuju desa Kledung memakan waktu sekitar 2 jam. Sampai di rumah teman saya, kami istirahat sebentar sambil menunggu waktu mendaki yaitu setelah dhuhur karena teman saya memang memiliki trek favorit siang hari.
Jam 1.30 p.m. kami berangkat menuju basecamp pendakian dengan membawa tas kami masing-masing. Kami mendaftarkan diri dan ternyata sudah ada 6 orang dari UNNES yang lebih dulu mendaki. Jadi setidaknya ada teman lah di puncak, udah ada yang bikin api unggun buat penghangat, itu pikiran saya saat itu.
Pukul 2 p.m. kami mulai menyusuri jalur pendakian yang diawali dengan trek yang masih mudah, dikelilingi oleh perkebunan warga sepanjang jalan dengan pemandangan yang sangat eksotis, dengan latar belakang Gunung Sumbing yang megah berdiri di belakang kami, kami memulai perjalanan dengan mantap dan senang. Perkebunan warga lumayan banyak mengambil waktu kami, jarak tempuhnya sekitar 1 jam sebelum kami memasuki gerbang gunung, dan langsung menghadapi trek hutan pinus. Indah, itu yang bisa saya katakan.
Saya sudah merasa ada sesuatu yang salah dengan teman saya yang lain. Baru sampai perkebunan warga, dia sudah meminta banyak istirahat. Padahal jalannya masih mendatar, belum menanjak, tapi dia selalu meminta istirahat. Masuk ke hutan pinus, jalan mulai terjal dan energy yang dibutuhkan pun semakin banyak. Tak jarang saya meminta untuk istirahat karena memang treknya yang aduhai beratnya. Teman saya yang lainnya mulai lagi menunjukkan tanda-tanda kelelahan, semakin sering berhenti saat berjalan.
Setelah berjalan beberapa jam, melewati pos-pos sambil memasang marker pada pohon-pohon untuk memberi tanda teman saya yang akan mendaki keesokan harinya setelah kami, sampai lah kami di pos 4, pos terakhir sebelum puncak. Kami menempuh waktu 5 jam pendakian. Tapi jangan salah, meskipun itu pos terakhir, bukan berarti puncak sudah sangat dekat, karena jarak antar pos 1 sampai pos 4 dengan pos 4 sampai puncak bisa dikatakan sama. Sehingga pos terakhir itu adalah setengah dari perjalanan kami. Kalau dihitung-hitung, kami menempuh waktu normal untuk sampai pos 4, sekitar 5 jam.
Kami sampai di pos 4 sekitar pukul 7 malam. Dengan keadaan yang sudah gelap karena sinar matahari yang berganti peran dengan rembulan untuk menerangi bumi di malam hari, kami memakai bantuan senter untuk menerangi perjalan kami menuju puncak. Karena suasana yang gelap dan agak basah karena hujan turun sebelumnya, kami tak melihat seperti apa trek yang kami lalui. Saya hanya tau, banyak batu-batu disana, dan kami harus menaiki batu itu satu persatu. Tak jarang saya harus meminta bantuan untuk menaiki bebatuan itu.
Di trek inilah kami benar-benar menghabiskan banyak waktu karena teman saya yang sering meminta istirahat itu, dia mendaki dalam tempo yang sangat lambat dan semakin banyak meminta istirahat, padahal hari semakin malam, semakin dingin, dan kabut mulai naik. Kami berniat untuk menyelesaikan pendakian sampai puncak, tapi apa daya, teman saya itu tak sanggup lagi melanjutkan perjalanan karena kelelahan dan mengeluh kakinya sakit dan sedang tidak enak badan. Yang ada dalam pikiran saya saat itu, kenapa ikut muncak kalo lagi nggak enak badan sama kakinya sakit.
Terpaksa kami mencari tanah lapang untuk mendirikan tenda. Selepas pos 4 sampai puncak itu sangat sulit mencari tanah datar yang lapang untuk mendirikan tenda, kami harus berjalan sekitar sejam untuk mendapatkan tempat yang sedikit lapang. Satu-satunya tanah yang agak luas sudah ditempati pendaki lain yang tidak lain adalah 6 orang dari UNNES itu. Hahahaha kami gagal mendapatkan api unggun ternyata, karena mereka ternyata tidak menyelesaikan pendakian. Akhirnya kami menemukana tanah yang agak datar dan bisa digunakan untuk mendirikan tenda, dan kebetulan juga kabut sudah mengelilingi kami dan tidak memungkinkan melanjutkan perjalanan ke puncak karena jarak pandang yang sangat terbatas tertutup kabut, kami memutuskan untuk mendirikan tenda di tempat itu, tempatnya agak landai dan sempit, hanya muat untuk mendirikan satu tenda saja, dan itu pun tenda kecil.
Setelah mendirikan tenda, saya memutuskan untuk langsung tidur, karena badan saya yang sudah lelah mendaki selama 10 jam, sedangkan 3 yang lain memasang peralatan masak dan siap memasak mi instan yang dibawa dan saya sudah siap tidur di dalam sleeping bag saya.
Entah jam berapa mereka menyusul saya ke tenda. Saya sudah tidur terlelap. Tenda yang sebetulnya hanya berkapasitas 2 orang, dengan terpaksa kami isi 4 orang karena tempat yang sangat terbatas. Rasanya sangat sumpek, bernapas aja rasanya susah, kami harus membagi oksigen untuk berempat.
Sekitar pukul 2 dini hari saya terbangun dengan posisi tenda tepat di muka saya dan kaki yang jatuh ke bawah. Tendanya pasti jalan dan mau jatuh ini, saya yakin karena tenda kami tidak dipasang patok sama sekali. Saya bangunkan semua yang ada si dalam tenda dan saya suruh mereka keluar untuk membenarkan posisi tenda dan mematoknya agar tidak jalan, bisa-bisa kami jatuh ke bawah kalo tidak segera dibenarkan. Dingin-dingin kami keluar demi membenarkan tempat tidur ternyaman kami di gunung, dan kembali ke dalam tenda untuk menikmati dinginnya gunung yang selalu saya rindukan.
Setengah jam setelah kembali ke dalam tenda, hujan pun turun. Untung tenda yang kami pakai terbuat dari parasit, jadi badan ngaak kebasahan, Cuma SBnya aja.
Sekitar pukul 05.30 saya bangun dan melihat indahnya pagi dari gunung Sindoro. Sensasi seperti ini baru saya rasakan sekali, dan benar-benar mengagumkan. Sumbing yang malu-malu tertutup kabut perlahan-lahan mulai menampakkan dirinya yang gagah dan siap untuk didaki. Tapi sayang sekali, pendakian saya kali itu bukan keberuntungan buat saya, karena lagi-lagi, saya tak mendapatkan sunrise yang selalu saya impikan.
Pukul 6 pagi saya dan sepupu saya memulai kembali perjalanan kami menuju puncak Sindoro. Setelah berjalan beberapa waktyu, teman saya Ari menyusul dan kami muncak bertiga. Satu teman saya tetap di tenda karena dia tidak sanggup melanjutkan perjalanan. Dengan susah payah saya mencapai puncak yang katanya tinggal sejam perjalanan, tapi karena saya yang tidak kuat, akhirnya perjalanan menuju puncak kami tempuh dalam waktu 3 jam,hehehehe. Makasih ya mas, kamu nggak ninggalin aku.
Sampai di puncak, pemandangan yang disuguhkan Sindoro benar-benar memukau, kawan. Merapi, Merbabu, Andong, Telomoyo, Sumbing, Ungaran, dan Slamet, semuanya menampakkan dirinya. Setelah puas menikmati puncak Sindoro selama kurang lebih 15 menit, kami kembali ke tenda. Kami bersiap-siap untuk turun dan sebelumnya menikmati sarapan kami yang sangat telat. Kami mulai turun sekitar pukul 12 siang.
Perjalanan turun sungguh sangat berat, karena kaki kami harus menahan langkah. Saya dan sepupu saya sangat tidak menyangka bahwa semalem kami melewati trek yang sungguh menantang, bebatuan. Trek yang tidak saya sukai menjadi momok bagi saya, trek tanah berpasir dan berkerikil karena saya jatuh dan ada oleh-oleh deh dari Sindoro, lecet-lecet dan biru-biru. Sampai pos 2 kami kehabisan air dan tetap harus melanjutkan perjalanan turun tanpa air. Saya dan sepupu saya berjalan lebih dulu meninggalkan 2 teman saya karena kami mengejar waktu takut kehabisan bis. Sampai di bawah, langsung saya ke pinggir jalan dan menunggu bis. Dan lagi-lagi kami sial, dibohongi kernet engkel yang bilang bisnya sampe Magelang, tapi kami diturunin di Parakan. Spontan sepupu saya marah-marah ke kernet di pinggir jalan. Tapi untungnya setelah itu, masih ada bis yang ke Magelang.

Setiap perjalanan akan selalu memberikan ceritanya sendiri-sendiri. Dan inilah Sindoro…………….

No comments:

Post a Comment