Inilah puncak tinggi pertama
saya……………
Ajakan salah seorang teman
laki-laki saya untuk muncak ke Gunung Sindoro siang itu, tidak bisa saya tolak.
Saya langsung saja mengiyakan ajakan dia meskipun saya belum ijin sama orang
tua. Saya pikir, ah pasti dapet ijinlah, orang perginya kan juga bareng-bareng.
Teman saya itu memang tau kalau
saya suka sekali sama gunung dan memiliki ketertarikan untuk mendaki, makanya
dia menawarkan saya untuk gabung di acaranya ke Gunung Sindoro. Sebenernya
nggak ada acara khusus sih, cuma naik gunung biasa aja, cuma mengisi akhir
pekan.
Awalnya saya sempet takut untuk
ikut gabung dengan mereka karena baru-baru ini Gunung Sindoro ditutup karena
aktifitas belerang di kawahnya meningkat dan menimbulkan bahaya kalau ada yang
mendaki. Makanya saya pastikan dulu ke temen saya itu, apa sudah aman naik
Sindoro, dan dia memestikan aman. Teman saya yang lain ini adalah penunjuk
jalan kami di Gunung Sindoro, karena dia adalah anak asli kaki Gunung Sumbing
dan Sindoro dan sudah mendaki Sindoro 4 kali. Hebat ya, dan mau mengulang
gunung yang sama berkali-kali. Salut saya……..
Setelah itu saya ijin ke orang
tua, dan mereka mengizinkan karena saya bilang akan banyak orang yang ikut dan
nggak hanya laki-laki, tapi ada perempuannya. Awalnya sekitar 9 orang yang akan
muncak bersama-sama. Tapi semakin mendekati hari H, satu per satu membatalkan
rencananya untuk gabung ke Sindoro dengan berbagai alasan. Rencana awal yang
akan 9 orang, langsung melorot tinggal 3 orang, dan disitu hanya saya
perempuannya. Saya khawatir kalo bilang ke orang tua saya bahwa hanya 3 orang
yang mendaki dan saya satu-satunya perempuan disitu, saya tidak akan
mendapatkan ijin mereka untuk muncak. Saya tidak mengabari mereka dulu, saya
mencari cara agar dapet teman perempuan minimal 1 yang mau bergabung dengan
kami. Tapi sayang sekali, saya tak mendapatkan satu teman perempuan pun yang
bersedia ikut. Hampir pupus harapan saya menaklukan gunung tinggi pertama saya,
gunung yang memiliki ketinggian 3136 m dpl ini.
Tapi saya tak kehabisan akal,
saya putar otak mencari cara agar saya tetap berangkat muncak. Saya temukan
ide, langsung saya SMS sepupu laki-laki saya di Klaten yang kebetulan sedang
cuti. Saya ajak dia ikut muncak bersama saya, dan dia setuju. Akhirnya terwujud
juga mimpi saya untuk mencapai puncak gunung tinggi…………..
Mendekati hari-H, saya
mempersiapkan semua perlengkapan yang dibutuhkan, saya pinjam tenda, sleeping
bag, persiapan makanan, baju, spirtus, dan semuanya. Saya sangat bersemangat
mempersiapkan semuanya, yang ada dalam pikiran saya hanyalah puncak, puncak,
dan puncak. Puncak Sindoro tunggu aku, hanya kata-kata itu yang ada di otak
saya.
Saatnya tiba, saya janjian
dengan 2 teman lainnya untuk ketemuan di rumah teman saya itu di Wonosobo, saya
naik bis dengan sepupu saya itu. Sampai hari pendakian, ternyata hanya 4 orang
yang siap mendaki, dan kami memutuskan untuk tetap mendaki. Dan saya adalah
“the single fighter” karena, ya, saya satu-satunya perempuan dalam pendakian
kala itu. Tapi jelas saya sudah mendapatkan ijin dari orang tua saya, karena
trik mengajak sepupu laki-laki saya itu berhasil. Hehehehehehe
Saya dan sepupu berangkat dari
rumah pukul 8, dan perjalanan menuju desa Kledung memakan waktu sekitar 2 jam.
Sampai di rumah teman saya, kami istirahat sebentar sambil menunggu waktu
mendaki yaitu setelah dhuhur karena teman saya memang memiliki trek favorit
siang hari.
Jam 1.30 p.m. kami berangkat
menuju basecamp pendakian dengan membawa tas kami masing-masing. Kami mendaftarkan
diri dan ternyata sudah ada 6 orang dari UNNES yang lebih dulu mendaki. Jadi
setidaknya ada teman lah di puncak, udah ada yang bikin api unggun buat
penghangat, itu pikiran saya saat itu.
Pukul 2 p.m. kami mulai
menyusuri jalur pendakian yang diawali dengan trek yang masih mudah,
dikelilingi oleh perkebunan warga sepanjang jalan dengan pemandangan yang
sangat eksotis, dengan latar belakang Gunung Sumbing yang megah berdiri di
belakang kami, kami memulai perjalanan dengan mantap dan senang. Perkebunan
warga lumayan banyak mengambil waktu kami, jarak tempuhnya sekitar 1 jam
sebelum kami memasuki gerbang gunung, dan langsung menghadapi trek hutan pinus.
Indah, itu yang bisa saya katakan.
Saya sudah merasa ada sesuatu
yang salah dengan teman saya yang lain. Baru sampai perkebunan warga, dia sudah
meminta banyak istirahat. Padahal jalannya masih mendatar, belum menanjak, tapi
dia selalu meminta istirahat. Masuk ke hutan pinus, jalan mulai terjal dan
energy yang dibutuhkan pun semakin banyak. Tak jarang saya meminta untuk
istirahat karena memang treknya yang aduhai beratnya. Teman saya yang lainnya
mulai lagi menunjukkan tanda-tanda kelelahan, semakin sering berhenti saat
berjalan.
Setelah berjalan beberapa jam,
melewati pos-pos sambil memasang marker pada pohon-pohon untuk memberi tanda
teman saya yang akan mendaki keesokan harinya setelah kami, sampai lah kami di
pos 4, pos terakhir sebelum puncak. Kami menempuh waktu 5 jam pendakian. Tapi
jangan salah, meskipun itu pos terakhir, bukan berarti puncak sudah sangat dekat,
karena jarak antar pos 1 sampai pos 4 dengan pos 4 sampai puncak bisa dikatakan
sama. Sehingga pos terakhir itu adalah setengah dari perjalanan kami. Kalau
dihitung-hitung, kami menempuh waktu normal untuk sampai pos 4, sekitar 5 jam.
Kami sampai di pos 4 sekitar
pukul 7 malam. Dengan keadaan yang sudah gelap karena sinar matahari yang
berganti peran dengan rembulan untuk menerangi bumi di malam hari, kami memakai
bantuan senter untuk menerangi perjalan kami menuju puncak. Karena suasana yang
gelap dan agak basah karena hujan turun sebelumnya, kami tak melihat seperti
apa trek yang kami lalui. Saya hanya tau, banyak batu-batu disana, dan kami
harus menaiki batu itu satu persatu. Tak jarang saya harus meminta bantuan
untuk menaiki bebatuan itu.
Di trek inilah kami benar-benar
menghabiskan banyak waktu karena teman saya yang sering meminta istirahat itu,
dia mendaki dalam tempo yang sangat lambat dan semakin banyak meminta
istirahat, padahal hari semakin malam, semakin dingin, dan kabut mulai naik.
Kami berniat untuk menyelesaikan pendakian sampai puncak, tapi apa daya, teman
saya itu tak sanggup lagi melanjutkan perjalanan karena kelelahan dan mengeluh
kakinya sakit dan sedang tidak enak badan. Yang ada dalam pikiran saya saat
itu, kenapa ikut muncak kalo lagi nggak enak badan sama kakinya sakit.
Terpaksa kami mencari tanah
lapang untuk mendirikan tenda. Selepas pos 4 sampai puncak itu sangat sulit
mencari tanah datar yang lapang untuk mendirikan tenda, kami harus berjalan
sekitar sejam untuk mendapatkan tempat yang sedikit lapang. Satu-satunya tanah
yang agak luas sudah ditempati pendaki lain yang tidak lain adalah 6 orang dari
UNNES itu. Hahahaha kami gagal mendapatkan api unggun ternyata, karena mereka
ternyata tidak menyelesaikan pendakian. Akhirnya kami menemukana tanah yang
agak datar dan bisa digunakan untuk mendirikan tenda, dan kebetulan juga kabut
sudah mengelilingi kami dan tidak memungkinkan melanjutkan perjalanan ke puncak
karena jarak pandang yang sangat terbatas tertutup kabut, kami memutuskan untuk
mendirikan tenda di tempat itu, tempatnya agak landai dan sempit, hanya muat
untuk mendirikan satu tenda saja, dan itu pun tenda kecil.
Setelah mendirikan tenda, saya
memutuskan untuk langsung tidur, karena badan saya yang sudah lelah mendaki
selama 10 jam, sedangkan 3 yang lain memasang peralatan masak dan siap memasak
mi instan yang dibawa dan saya sudah siap tidur di dalam sleeping bag saya.
Entah jam berapa mereka
menyusul saya ke tenda. Saya sudah tidur terlelap. Tenda yang sebetulnya hanya
berkapasitas 2 orang, dengan terpaksa kami isi 4 orang karena tempat yang
sangat terbatas. Rasanya sangat sumpek, bernapas aja rasanya susah, kami harus
membagi oksigen untuk berempat.
Sekitar pukul 2 dini hari saya
terbangun dengan posisi tenda tepat di muka saya dan kaki yang jatuh ke bawah.
Tendanya pasti jalan dan mau jatuh ini, saya yakin karena tenda kami tidak
dipasang patok sama sekali. Saya bangunkan semua yang ada si dalam tenda dan
saya suruh mereka keluar untuk membenarkan posisi tenda dan mematoknya agar
tidak jalan, bisa-bisa kami jatuh ke bawah kalo tidak segera dibenarkan.
Dingin-dingin kami keluar demi membenarkan tempat tidur ternyaman kami di
gunung, dan kembali ke dalam tenda untuk menikmati dinginnya gunung yang selalu
saya rindukan.
Setengah jam setelah kembali ke
dalam tenda, hujan pun turun. Untung tenda yang kami pakai terbuat dari
parasit, jadi badan ngaak kebasahan, Cuma SBnya aja.
Sekitar pukul 05.30 saya bangun
dan melihat indahnya pagi dari gunung Sindoro. Sensasi seperti ini baru saya
rasakan sekali, dan benar-benar mengagumkan. Sumbing yang malu-malu tertutup
kabut perlahan-lahan mulai menampakkan dirinya yang gagah dan siap untuk
didaki. Tapi sayang sekali, pendakian saya kali itu bukan keberuntungan buat
saya, karena lagi-lagi, saya tak mendapatkan sunrise yang selalu saya impikan.
Pukul 6 pagi saya dan sepupu
saya memulai kembali perjalanan kami menuju puncak Sindoro. Setelah berjalan
beberapa waktyu, teman saya Ari menyusul dan kami muncak bertiga. Satu teman
saya tetap di tenda karena dia tidak sanggup melanjutkan perjalanan. Dengan
susah payah saya mencapai puncak yang katanya tinggal sejam perjalanan, tapi
karena saya yang tidak kuat, akhirnya perjalanan menuju puncak kami tempuh
dalam waktu 3 jam,hehehehe. Makasih ya mas, kamu nggak ninggalin aku.
Sampai di puncak, pemandangan
yang disuguhkan Sindoro benar-benar memukau, kawan. Merapi, Merbabu, Andong,
Telomoyo, Sumbing, Ungaran, dan Slamet, semuanya menampakkan dirinya. Setelah
puas menikmati puncak Sindoro selama kurang lebih 15 menit, kami kembali ke
tenda. Kami bersiap-siap untuk turun dan sebelumnya menikmati sarapan kami yang
sangat telat. Kami mulai turun sekitar pukul 12 siang.
Perjalanan turun sungguh sangat
berat, karena kaki kami harus menahan langkah. Saya dan sepupu saya sangat
tidak menyangka bahwa semalem kami melewati trek yang sungguh menantang,
bebatuan. Trek yang tidak saya sukai menjadi momok bagi saya, trek tanah
berpasir dan berkerikil karena saya jatuh dan ada oleh-oleh deh dari Sindoro,
lecet-lecet dan biru-biru. Sampai pos 2 kami kehabisan air dan tetap harus
melanjutkan perjalanan turun tanpa air. Saya dan sepupu saya berjalan lebih
dulu meninggalkan 2 teman saya karena kami mengejar waktu takut kehabisan bis.
Sampai di bawah, langsung saya ke pinggir jalan dan menunggu bis. Dan lagi-lagi
kami sial, dibohongi kernet engkel yang bilang bisnya sampe Magelang, tapi kami
diturunin di Parakan. Spontan sepupu saya marah-marah ke kernet di pinggir
jalan. Tapi untungnya setelah itu, masih ada bis yang ke Magelang.
Setiap perjalanan akan selalu
memberikan ceritanya sendiri-sendiri. Dan inilah Sindoro…………….

No comments:
Post a Comment