Inilah puncak pertama saya………..
Sudah lama sekali saya
ingin pergi ke Gunung Bromo karena melihat tayangan di TV yang menampilkan
keindahan padang pasir Bromo yang sangat luas, tapi pada saat itu dalam pikiran
saya entah kapan saya bisa kesana.
Dan keinginan itu
terwujud saat saudara dari Jakarta berkunjung ke Magelang untuk melihat
indahnya dan megahnya Candi Borobudur dan mengunjungi beberapa tempat wisata
lain di Pulau Jawa, dan salah satunya adalah Gunung Bromo. Tahu mereka akan
pergi ke Bromo, saya ngotot harus ikut, karena impian saya yang sudah lama
ingin mengunjungi tempat indah itu.
Saya memutuskan
untuk membolos kuliah selama 2 hari demi Gunung Bromo yang sudah lama saya
idam-idamkan. Karena memang perjalanan ke Gunung Bromo dari kota saya tercinta
cukup memakan waktu yang lama. Dan kami memutuskan untuk berangkat pagi-pagi,
tapi sebelumnya mampir ke rumah saudara saya di Klaten karena ternyata tidak
semua saudara saya mau ikut perjalanan ke Gunung Bromo. Karena alasan jauh dan
lama, mereka memutuskan untuk tinggal saja di rumah saudara saya di Klaten.
Alhasil kami hanya berangkat berenam menuju Probolinggo dengan membawa 2
balita.
Dari semua penumpang
di mobil, tidak ada satu pun yang tau jalan menuju Gunung Bromo. Kami berangkat
hanya dengan modal nekat dan keyakinan akan sampai disana, dan dengan modal
keinginan dan hasrat yang kuat untuk
sampai di Bromo. Setelah berdiskusi tentang waktu perjalanan berangkat dan
pulang, kami memutuskan untuk berangkat dari Klaten pukul 15.00 dengan
perkiraan perjalanan 12 jam, dan sampai di kota tujuan, Probolinggo pukul 3
dini hari, sehingga kami tak perlu mencari penginanapan disana. Kami mulailah
petualangan “mencari” Gunung Bromo. Hanya dengan bermodalkan penunjuk jalan
hijau di jalan raya, kami pun sampai di kota Probolinggo tepat pukul 2 dini hari,
kami sampai di tempat parkir wisata Bromo. 11 jam perjalanan kami lalui dengan
lancar, tanpa ada kesasar sama sekali. Terimakasih Tuhan karena memberikan
kelancaran perjalanan pada kami, meskipun saya dan om saya yang mengendalikan
setir mobil tidak sempat tidur selama perjalanan karena sibuk mencari jalan
menuju Probolinggo.
Kami sampai di Bromo
tepat di saat udara sedang dingin-dinginnya, suhu udara mencapai 0o
mungkin kali ya. Bisa dibayangkan sedingin apa pada saat itu. Tapi dinginnya
tidak bisa mengalahkan persaan senang yang tak terkira karena akhirnya kami
berhasil sampai di Bromo.
Kami menunggu selama
kurang lebih 2 jam untuk melihat sunrise di Gunung Pananjakan. Kami istirahat di
mobil, tapi lagi-lagi saya tidak bisa tidur. Saya hanya membayangkan akan
seindah apa sunrise dan Gunung Bromo itu. Bayangan saya selalu tertuju pada 2
hal itu. Tak sabar lagi rasanya mendapatkan keindahan itu.
Tiba saatnya kami
naik ke Gunung Pananjakan. Seharusnya kami menyewa mobil jeep untuk mencapai
Gunung Pananjakan karena treknya yang bukan aspal, tetapi bebatuan kecil,
biayanya sekitar 400 ribu, tapi karena kehabisan kami memutuskan untuk ke
Gunung Pananjakan memakai mobil pribadi. Sekitar 20 menit waktu yang dibutuhkan
untuk sampai di Gunung Pananjakan. Kami siap turun lengkap dengan kaos kaki,
kaos tangan, jaket tebal, penutup kepala, dan juga syal untuk menahan udara
dingin yang sangat menusuk tulang. Kami menunggu saat dimana sang surya siap keluar
dari cakrawala dan menampakan dirinya di puncak bersama para wisatawan lainnya.
Tapi ternyata hari itu bukan hari keberuntungan kami semua, karena kami tak
bisa mendapatkan sunrise yang konon katanya adalah sunrise terindah di dunia karena
kabut yang sangat tebal menutupinya. Kecewa memang, tapi kecewa itu bisa
terbayar dengan keindahan alam yang sangat luar bisa indahnya.
Saya pikir
perjalanan saya di Gunung Bromo hanya sampai disitu saja, dan kami memutuskan
kembali ke Klaten. Tapi ketika perjalanan menuju tempat parkir, kami melihat
tempat yang sangat indah seperti padang pasir yang sangat luas yang di
tengah-tengahnya terdapat 2 gunung yang menjulang tinggi. Kami berhenti
sebentar untuk menikmatinya, tak lama kemudian seorang tukang ojek menghampiri
kami dan menawarkan jasa ojeknya untuk mengantarkan kami ke Kawah Bromo dengan
tarif 50 ribu per motor. Ternyata perjalanan kami di Bromo belum berakhir. Dan
kami memutuskan untuk sampai ke puncak Gunung Bromo dengan ojek.
Perjalanan dengan
ojek ke Gunung Bromo memakan waktu sekitar 15 menit dengan panorama lautan
pasir yang sangat indah. Di tengah lautan pasir itu juga terdapat Gunung Batok
yang setia mendampingi Gunung Bromo yang gagah berdiri. Sampai di tempat parkir
motor, saya dan 2 sepupu saya memutuskan untuk naik sampai puncak, sementara si
tukang ojek setia menunggu kami hingga turun sampai di bawah lagi. Kami naik
bertiga dengan semangat, karena saya bertekad harus sampai atas dengan
berjalan, bukan naik kuda. Di tengah-tengah perjalanan, tiba-tiba, penyakit
asma sepupu saya kambuh karena udara gunung yang sangat dingin. Saya sewakan
dia dan sepupu saya yang masih berumur 4 tahun sebuah kuda untuk sampai di
tempat parkir motor dan kembali ke mobil. Tapi ternyata mereka takut kuda dan
menangis kalau disuruh naik kuda. Terpaksa saya mengantar mereka turun sampai
ke bawah dan meminta tukang ojek mengantar mereka ke parkiran mobil, tapi saya
akan tetap melanjutkan perjalanan saya ke puncak pertama saya.
Akhirnya saya
mendaki puncak pertama saya sendiri. Saya bertekad, pokoknya saat itu saya
harus sampai puncak meskipun sendiri dengan berjalan kaki. Alhasil dengan sisa
tenaga yang saya punya, setelah naik setengah gunung dan kemudian turun lagi,
saya lanjutkan perjalanan puncak pertama saya dengan semangat tanpa istirahat
karena euphoria mencapai puncak. 25 menit perjalanan yang saya lalui untuk
mencapai puncak, tidak terlalu lama memang, dan medannya pun tidak sulit,
karena hanya melewati pasir dan perlu menaiki anak tangga yang cukup banyak.
Akhirnya saya menapakkan kaki saya di puncak pertama saya, puncak 2393 m dpl. Bisa
dibayangkan sebahagia apa saya saat itu.
Sampai di atas,
kebahagiaan saya sungguh tak terkira, saya bisa sampai di puncak gunung yang
sudah lama saya idam-idamkan. Dinginnya dan kencangnya angin puncak terkalahkan
oleh kegembiraan saya. Meskipun saya muncak seorang diri, saya tetap merasa
gembira, bertemu dengan pendaki lain dari dalam maupun luar negeri. Pemandangan
puncak benar-benar menyuguhkan sesuatu yang bisa membelalakkan mata, hamparan
pasir yang sangat luas dan indah, Gunung Semeru yang menampakkan puncaknya
dengan tangguh, segalanya memberikan kepuasan pada batin saya, saya bisa sampai
di tempat seindah ini, benar-benar surga dunia, kawan.
Perjalanan turun ke
tempat parkir saya lalui dengan hati yang diliputi rasa bahagia, sepanjang
jalan hanya bisa tersenyum dan bersyukur pada Tuhan karena memberikan
kesempatan ini pada saya. Pemandangan di sekeliling Gunung Bromo pun tak ingin
saya lewatkan sama sekali pagi itu karena perjalanan berangkat saat dini hari
tak menampakkan keindahan alam suku Tengger itu. Perkebunan,
sengkedan-sengkedan yang menghiasi lereng-lereng terjal begitu memanjakan mata
para penikmatnya, termasuk saya.
Saya pulang dengan
perasaan senang dan bahagia yang tak terkira, dengan sejuta kenangan dan
gambaran indah akan kemegahan dan keagungan Gunung Bromo yang menjadi puncak
pertama saya.
Gunung akan selalu
menjadi tempat favorit saya……………

No comments:
Post a Comment