Saturday, September 1, 2012

Gunung Telomoyo (24 Maret 2011)


 
“Besok Sabtu aku mau camping lho sama murid-muridku di Gunung telomoyo.”
Isi SMS dari sahabat saya yang notabene seorang guru di sebuah madrasah di Temanggung yang berhasil membuat saya iri. Saya sangat paham kalau tujuan dis mengirim pesan itu ke saya, ya untuk pamer dan bikin saya iri, dan dia berhasil. Setelah mendapat SMS itu, langsung saya balas, “ikutttt.’ Dan dia membolehkan saya ikut. Haaaa senangnya saya saat itu karena bayang-bayang akan mencapai puncak, lagi-lagi puncak, my personal intention. Awalnya ada satu syarat yang harus saya lakukan jika memang ikut dalam perjalanan kali ini, yaitu berkerudung, karena murid-muridnya semua berkerudung, jelas karena mereka adalah anak-anak pesantren. Dan saya menyanggupi syarat itu, istilahnya, saya rela deh ngelakuin apa aja asal sampe ke puncak gunung. Termasuk memakai jilbab yang tidak pernah saya pakai sehari-hari. Tapi ternyata, saya tidak perlu memenuhi syarat itu, asalkan pakaian saya sopan dan pantas, itu sudah cukup.
Setelah itu, kami janjian untuk bertemu di terminal Grabag, kemudian melanjutkan perjalanan dengan kendaraan umum dari sana menuju rumah muridnya yang terdekat dengan gerbang Telomoyo. Saya tiba di terminal pukul 4 sore, dan menunggu beberapa muridnya terlebih dahulu sambil berkenalan dengan murid-murid perempuannya, tidak ada murid laki-laki disana, karena yang laki-laki sudah terlebih dahulu ke rumah muridnya itu. Saya pun berkenalan dengan teman gurunya yang menjadi Pembina ekskul pecinta alam di sekolah teman saya itu. Akhirnya waktu untuk naik angkot tiba, karena semua murid perempuan sudah tiba.
Sekitar 30 menit perjalanan kami tiba tepat di depan rumah murid teman saya itu. Kami istirahat disana sebelum mendaki Gunung Telomoyo. Rencananya kami akan mendaki setelah isya. Inilah pendakian malam pertama saya.
Ada kejadian lucu saat kami tiba di rumah murid teman saya itu. Karena teman saya itu laki-laki, semua muridnya seperti membicarakan kami berdua sejak kedatangan kami. Dan kami sadar saat itu kami sedang menjadi tranding topic bagi mereka. Tapi tak apalah, toh hanya sekedar gossip saja. Saya memang sangat dekat dengan teman laki-laki saya yang satu ini.
Setelah beribadah dan mengisi perut untuk persiapan muncak, kami pun mulai dengan membawa tas kami masing-masing. Saya sudah siap dengan jaket, sarung tangan, dan kaos  kaki saya karena pendakian malam, jadi saya pikir udaranya akan sangat dingin. Tapi saya salah, baru berjalan beberapa ratus meter, saya sudah merasa sumpek dengan segala perlengkapan penghangat tubuh yang saya pakai. Akhirnya saya lepas jaket, kaos kaki, dan sarung tangan itu. Alhasil saya hanya memakai celana panjang dan kaos selama pendakian, tapi saya bisa menikmati udara segar bahkan dingin yang diberikan gunung malam itu.
Karena ini adalah pendakian malam saya yang pertama, saya merasa takjub dan tertegun dengan pesona malam dari gunung. Lampu-lampu kota yang begitu indahnya, sangat sayang untuk dibiarkan begitu saja tanpa dinikmati keindahan yang dipancarkannya. Bahkan beberapa kali kami mendapatkan kesempatan untuk melihat betapa indahnya petir dari puncak Gunung Ungaran, menakjubkan. Semua pemandangan malam itu tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Cobalah sendiri sensasi malam di gunung, dan anda akan terkesima.
Dengar-dengar tinggi Gunung Telomoyo tidak beda jauh dengan Gunung Andong, katanya hanya beda 100 meter. Makanya saya pikir, ah mungkin hanya berjalan sekitar 2 jam lah, tidak beda jauh sama naik Andong. Tapi ternyata saya salah besar. Tinggi Gunung Andong yang hanya 1463 berbeda sekitar 400 meter dengan Telomoyo yang memiliki ketinggian 1894 m dpl. Jarak tempuhnya pun 2 kali lipat dari gunung Andong, kami harus berjalan 4 jam untuk sampai puncak. Pantas saja saya ngerasa jalan kok lama sekali, sudah berjalan selama 2 jam tapi tak ada tanda-tanda mencapai puncak sama sekali.
Jalan yang kami lalui di Gunung Telomoyo sudah terbilang sangat bagus karena sudah beraspal sehingga kami tak perlu bersusah-susah naik meskipun trek malam hari. Ditemani lampu senter yang cukup untuk menerangi kami yang berjumlah 33 orang, kami mengambil banyak kayu untuk persediaan api unggun di puncak yang pastinya akan sangat dingin.
Setelah 4 jam kami lalui sambil berbagi cerita dan keceriaan, akhirnya kami sampai di puncak, puncak ketiga saya. dah Oh God thanks for this, itulah yang saya rasakan saat menginjakkan kaki di puncak Gunung Telomoyo sekitar pukul 23.30. Dengan jalan yang tidak terlalu terjal dan ternyata melingkar, kami hanya 3 kali beristirahat selama perjalanan. Yang membuat jarak tempuh gunung ini menjadi 2 kali lipat dari Andong adalah jalan yang melingkar itu, jadi kami seperti mengelilingi gunung. Tapi trek malam sama sekali tidak memberikan rasa capek buat saya, apalagi ketika berhasil sampai puncak, kepuasan lah yang hanya ada dalam diri saya.
Sampai di puncak, kami mendirikan tenda dan memasak karena memang perut ini sudah sangat keroncongan meskipun sudah terisi sebelum naik. Kami langsung memasak bekal yang kami bawa dari bawah sambil menikmati api unggun di tengah tenda laki-laki dan perempuan. Ya jelas, karena saya mendaki dengan anak-anak pesantren, tidak mungkin laki-laki dan perempuan menjadi satu. Asik menikmati makan malam kedua kami, tiba-tiba datang 3 orang dengan motornya. Gunung Telomoyo memang bisa ditempuh dengan kendaraan sampai puncak. Kami sangat ketakutan dengan para tamu yang tak diundang itu karena saya yakin sekali mereka semua dalam keadaan mabuk. Semalaman saya tidak bisa tenang sampai mereka pergi. Di dalam tenda pun saya tidak bisa tidur sama sekali meskipun saya sudah siap tidur di dalam sleeping bag saya. tapi rasa khawatir dan berisik dari para tamu-tamu itu membuat saya tak bisa benar-benar memejamkan mata saya, bahkan untuk sejenak. Entah teman saya itu tidur nyenyak atau tidak di tenda satunya.
Akhirnya sekitar jam 4 subuh mereka meninggalkan tempat camping kami, tapi ya percuma jika saya istirahat karena sebentar lagi waktunya sang surya menampakkan dirinya dari tempat persembunyiannya, tentu saya tidak ingin melewatinya. Lagi pula, meskipun sudah memakai sleeping bag, saya tetap merasa kedinginan terutama pada bagian telapak kaki meskipun sudah berkaos kaki, tapi tetap saja udara dingin yang memenangi perang itu. Ya sudah, saya putuskan untuk tidak tidur saja. Gara-gara 3 tamu itu, saya jadi tidak bisa istirahat sama sekali. Tapi tak apalah demi pemandangan indah pagi itu.
Pukul 5 pagi kami keluar dari tenda dan bersiap menikmati keluarnya matahari dari cakrawalanya. Saya sudah bersiap di luar lengkap dengan jaket, kaos kaki, dan sarung tangan karena udara masih sangat dingin menunggu saat-saat matahari menampakkan dirinya pada dunia. Tapi sayang sekali, lagi-lagi pagi itu bukan pagi keberuntungan saya, kabut yang setia menemani kami dari malam, tak kunjung pergi dan membiarkan matahari memperlihatkan kecantikannya pagi itu. Puncak ketiga saya pun gagal menjadi sunrise pertama saya.
Akhirnya sambil menunggu udara tidak terlalu dingin, kami memasak bekal untuk sarapan, hitung-hitung untuk mengganjal perutlah. Saya hanya memakan roti yang saya bawa dari rumah sebagai menu sarapan saya pagi itu. Saya tidak ingin memasak karena hanya ada satu panci dan spirtus. Dan saya malas mengantri dengan yang lain. Saya baru tahu bagaimana memasak dengan spirtus saat di gunung ya pada saat itu.
Setelah sarapan, kami menuju tempat yang bisa disebut gardu pandang Gunung Telomoyo, dimana kita bisa melihat pemandangan menakjubkan dari sana. Awalnya hanya kabut putih yang kami lihat. Tapi lama kelamaan kabut itu menyingkir dan memberikan ruang untuk alam disana agar bisa kami nikamati. Wow, itulah kata pertama yang keluar dari mulut saya ketika kabut mulai pergi. Bisa anda bayangkan, Gunung Semeru, Sindoro, Ungaran, Andong, dan Rawa Pening berkolaborasi menempakkan keindahannya pagi itu. Inilah puncak terindah saya, pikir saya saat itu, mengalahkan Gunung Bromo bahkan. Benar-benar amazing. Saya merasa beruntung karena bisa mendapatkan tempat seindah itu, salah satu surga di dunia ini mungkin. Keindahannya belum selesai sampai disini, saat kabut hanya sekedar lewat di bawah kami, keindahan gunung-gunung itu semua menjadi semakin lengkap dengan adanya pelangi yang melingkar di bawah kami, sempurna.
Saya benar-benar takjub dan amazed saat bisa mendapatkan pemandangan seindah itu. Tuhan kenapa bisa menciptakan tempat seindah itu. Saya sangat bersyukur karena bisa berada di salah satu negeri di atas awan karena tak semua orang bersedia melakukannya. Pengalaman yang tak terlupakan.
Jika saat berangkat saya dapati indahnya malam, lain lagi dengan pulang, saya dapati keindahan alam pagi hari. Jika saat malam saya hanya bisa menikmati lampu-lampu kota, saat pagi bukan lagi lampu-lampu kota yang saya dapatkan, tapi alam semesta dengan segala keindahannya. Matahari pagi yang menyinari alam ini membuat semua yang saya lihat menjadi sempurna. Perjalanan yang sangat indah, sayang sekali jika dilewatkan, bahkan sejengkal pun. Setiap langkah kaki ini memberikan kepuasan dan kebahagian sendiri yang tak terkira.
Perjalanan turun tak mengahabiskan waktu yang sama dengan berangkat, kami hanya membutuhkan waktu 2,5 jam untuk sampai lagi di rumah murid teman saya itu. Meskipun waktu yang lebih singkat dan energinya tak sebanyak saat naik, tapi justru saat turun itu lebih berat. Kaki rasanya gemetaran semua. Tapi pemandangan yang ada membuat perjalanan pulang sangat berkesan.
Inilah puncak ketiga saya, Telomoyo 1894 m dpl. Dan menyusul puncak-puncak berikutnya.
Gunung selalu berhasil membuat saya takjub……………..

No comments:

Post a Comment