“Besok Sabtu aku mau camping lho sama murid-muridku di Gunung telomoyo.”
Isi SMS dari sahabat
saya yang notabene seorang guru di sebuah madrasah di Temanggung yang berhasil
membuat saya iri. Saya sangat paham kalau tujuan dis mengirim pesan itu ke
saya, ya untuk pamer dan bikin saya iri, dan dia berhasil. Setelah mendapat SMS
itu, langsung saya balas, “ikutttt.’ Dan dia membolehkan saya ikut. Haaaa
senangnya saya saat itu karena bayang-bayang akan mencapai puncak, lagi-lagi puncak,
my personal intention. Awalnya ada satu syarat yang harus saya lakukan jika
memang ikut dalam perjalanan kali ini, yaitu berkerudung, karena murid-muridnya
semua berkerudung, jelas karena mereka adalah anak-anak pesantren. Dan saya
menyanggupi syarat itu, istilahnya, saya rela deh ngelakuin apa aja asal sampe
ke puncak gunung. Termasuk memakai jilbab yang tidak pernah saya pakai
sehari-hari. Tapi ternyata, saya tidak perlu memenuhi syarat itu, asalkan
pakaian saya sopan dan pantas, itu sudah cukup.
Setelah itu, kami
janjian untuk bertemu di terminal Grabag, kemudian melanjutkan perjalanan
dengan kendaraan umum dari sana menuju rumah muridnya yang terdekat dengan
gerbang Telomoyo. Saya tiba di terminal pukul 4 sore, dan menunggu beberapa
muridnya terlebih dahulu sambil berkenalan dengan murid-murid perempuannya,
tidak ada murid laki-laki disana, karena yang laki-laki sudah terlebih dahulu
ke rumah muridnya itu. Saya pun berkenalan dengan teman gurunya yang menjadi
Pembina ekskul pecinta alam di sekolah teman saya itu. Akhirnya waktu untuk
naik angkot tiba, karena semua murid perempuan sudah tiba.
Sekitar 30 menit
perjalanan kami tiba tepat di depan rumah murid teman saya itu. Kami istirahat
disana sebelum mendaki Gunung Telomoyo. Rencananya kami akan mendaki setelah
isya. Inilah pendakian malam pertama saya.
Ada kejadian lucu saat
kami tiba di rumah murid teman saya itu. Karena teman saya itu laki-laki, semua
muridnya seperti membicarakan kami berdua sejak kedatangan kami. Dan kami sadar
saat itu kami sedang menjadi tranding topic bagi mereka. Tapi tak apalah, toh
hanya sekedar gossip saja. Saya memang sangat dekat dengan teman laki-laki saya
yang satu ini.
Setelah beribadah dan
mengisi perut untuk persiapan muncak, kami pun mulai dengan membawa tas kami
masing-masing. Saya sudah siap dengan jaket, sarung tangan, dan kaos kaki saya karena pendakian malam, jadi saya pikir
udaranya akan sangat dingin. Tapi saya salah, baru berjalan beberapa ratus
meter, saya sudah merasa sumpek dengan segala perlengkapan penghangat tubuh
yang saya pakai. Akhirnya saya lepas jaket, kaos kaki, dan sarung tangan itu.
Alhasil saya hanya memakai celana panjang dan kaos selama pendakian, tapi saya
bisa menikmati udara segar bahkan dingin yang diberikan gunung malam itu.
Karena ini adalah
pendakian malam saya yang pertama, saya merasa takjub dan tertegun dengan
pesona malam dari gunung. Lampu-lampu kota yang begitu indahnya, sangat sayang
untuk dibiarkan begitu saja tanpa dinikmati keindahan yang dipancarkannya.
Bahkan beberapa kali kami mendapatkan kesempatan untuk melihat betapa indahnya
petir dari puncak Gunung Ungaran, menakjubkan. Semua pemandangan malam itu
tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Cobalah sendiri sensasi malam di
gunung, dan anda akan terkesima.
Dengar-dengar tinggi
Gunung Telomoyo tidak beda jauh dengan Gunung Andong, katanya hanya beda 100
meter. Makanya saya pikir, ah mungkin hanya berjalan sekitar 2 jam lah, tidak
beda jauh sama naik Andong. Tapi ternyata saya salah besar. Tinggi Gunung
Andong yang hanya 1463 berbeda sekitar 400 meter dengan Telomoyo yang memiliki
ketinggian 1894 m dpl. Jarak tempuhnya pun 2 kali lipat dari gunung Andong,
kami harus berjalan 4 jam untuk sampai puncak. Pantas saja saya ngerasa jalan
kok lama sekali, sudah berjalan selama 2 jam tapi tak ada tanda-tanda mencapai puncak
sama sekali.
Jalan yang kami lalui
di Gunung Telomoyo sudah terbilang sangat bagus karena sudah beraspal sehingga
kami tak perlu bersusah-susah naik meskipun trek malam hari. Ditemani lampu
senter yang cukup untuk menerangi kami yang berjumlah 33 orang, kami mengambil
banyak kayu untuk persediaan api unggun di puncak yang pastinya akan sangat
dingin.
Setelah 4 jam kami
lalui sambil berbagi cerita dan keceriaan, akhirnya kami sampai di puncak,
puncak ketiga saya. dah Oh God thanks for this, itulah yang saya rasakan saat
menginjakkan kaki di puncak Gunung Telomoyo sekitar pukul 23.30. Dengan jalan
yang tidak terlalu terjal dan ternyata melingkar, kami hanya 3 kali
beristirahat selama perjalanan. Yang membuat jarak tempuh gunung ini menjadi 2
kali lipat dari Andong adalah jalan yang melingkar itu, jadi kami seperti
mengelilingi gunung. Tapi trek malam sama sekali tidak memberikan rasa capek
buat saya, apalagi ketika berhasil sampai puncak, kepuasan lah yang hanya ada
dalam diri saya.
Sampai di puncak, kami
mendirikan tenda dan memasak karena memang perut ini sudah sangat keroncongan
meskipun sudah terisi sebelum naik. Kami langsung memasak bekal yang kami bawa
dari bawah sambil menikmati api unggun di tengah tenda laki-laki dan perempuan.
Ya jelas, karena saya mendaki dengan anak-anak pesantren, tidak mungkin
laki-laki dan perempuan menjadi satu. Asik menikmati makan malam kedua kami,
tiba-tiba datang 3 orang dengan motornya. Gunung Telomoyo memang bisa ditempuh
dengan kendaraan sampai puncak. Kami sangat ketakutan dengan para tamu yang tak
diundang itu karena saya yakin sekali mereka semua dalam keadaan mabuk.
Semalaman saya tidak bisa tenang sampai mereka pergi. Di dalam tenda pun saya
tidak bisa tidur sama sekali meskipun saya sudah siap tidur di dalam sleeping
bag saya. tapi rasa khawatir dan berisik dari para tamu-tamu itu membuat saya
tak bisa benar-benar memejamkan mata saya, bahkan untuk sejenak. Entah teman
saya itu tidur nyenyak atau tidak di tenda satunya.
Akhirnya sekitar jam 4
subuh mereka meninggalkan tempat camping kami, tapi ya percuma jika saya
istirahat karena sebentar lagi waktunya sang surya menampakkan dirinya dari
tempat persembunyiannya, tentu saya tidak ingin melewatinya. Lagi pula,
meskipun sudah memakai sleeping bag, saya tetap merasa kedinginan terutama pada
bagian telapak kaki meskipun sudah berkaos kaki, tapi tetap saja udara dingin
yang memenangi perang itu. Ya sudah, saya putuskan untuk tidak tidur saja.
Gara-gara 3 tamu itu, saya jadi tidak bisa istirahat sama sekali. Tapi tak
apalah demi pemandangan indah pagi itu.
Pukul 5 pagi kami
keluar dari tenda dan bersiap menikmati keluarnya matahari dari cakrawalanya.
Saya sudah bersiap di luar lengkap dengan jaket, kaos kaki, dan sarung tangan
karena udara masih sangat dingin menunggu saat-saat matahari menampakkan
dirinya pada dunia. Tapi sayang sekali, lagi-lagi pagi itu bukan pagi
keberuntungan saya, kabut yang setia menemani kami dari malam, tak kunjung
pergi dan membiarkan matahari memperlihatkan kecantikannya pagi itu. Puncak
ketiga saya pun gagal menjadi sunrise pertama saya.
Akhirnya sambil
menunggu udara tidak terlalu dingin, kami memasak bekal untuk sarapan,
hitung-hitung untuk mengganjal perutlah. Saya hanya memakan roti yang saya bawa
dari rumah sebagai menu sarapan saya pagi itu. Saya tidak ingin memasak karena
hanya ada satu panci dan spirtus. Dan saya malas mengantri dengan yang lain. Saya
baru tahu bagaimana memasak dengan spirtus saat di gunung ya pada saat itu.
Setelah sarapan, kami
menuju tempat yang bisa disebut gardu pandang Gunung Telomoyo, dimana kita bisa
melihat pemandangan menakjubkan dari sana. Awalnya hanya kabut putih yang kami
lihat. Tapi lama kelamaan kabut itu menyingkir dan memberikan ruang untuk alam
disana agar bisa kami nikamati. Wow, itulah kata pertama yang keluar dari mulut
saya ketika kabut mulai pergi. Bisa anda bayangkan, Gunung Semeru, Sindoro,
Ungaran, Andong, dan Rawa Pening berkolaborasi menempakkan keindahannya pagi
itu. Inilah puncak terindah saya, pikir saya saat itu, mengalahkan Gunung Bromo
bahkan. Benar-benar amazing. Saya merasa beruntung karena bisa mendapatkan
tempat seindah itu, salah satu surga di dunia ini mungkin. Keindahannya belum
selesai sampai disini, saat kabut hanya sekedar lewat di bawah kami, keindahan
gunung-gunung itu semua menjadi semakin lengkap dengan adanya pelangi yang
melingkar di bawah kami, sempurna.
Saya benar-benar takjub
dan amazed saat bisa mendapatkan pemandangan seindah itu. Tuhan kenapa bisa
menciptakan tempat seindah itu. Saya sangat bersyukur karena bisa berada di
salah satu negeri di atas awan karena tak semua orang bersedia melakukannya.
Pengalaman yang tak terlupakan.
Jika saat berangkat
saya dapati indahnya malam, lain lagi dengan pulang, saya dapati keindahan alam
pagi hari. Jika saat malam saya hanya bisa menikmati lampu-lampu kota, saat
pagi bukan lagi lampu-lampu kota yang saya dapatkan, tapi alam semesta dengan
segala keindahannya. Matahari pagi yang menyinari alam ini membuat semua yang
saya lihat menjadi sempurna. Perjalanan yang sangat indah, sayang sekali jika
dilewatkan, bahkan sejengkal pun. Setiap langkah kaki ini memberikan kepuasan
dan kebahagian sendiri yang tak terkira.
Perjalanan turun tak
mengahabiskan waktu yang sama dengan berangkat, kami hanya membutuhkan waktu
2,5 jam untuk sampai lagi di rumah murid teman saya itu. Meskipun waktu yang
lebih singkat dan energinya tak sebanyak saat naik, tapi justru saat turun itu
lebih berat. Kaki rasanya gemetaran semua. Tapi pemandangan yang ada membuat
perjalanan pulang sangat berkesan.
Inilah puncak ketiga
saya, Telomoyo 1894 m dpl. Dan menyusul puncak-puncak berikutnya.
Gunung selalu berhasil
membuat saya takjub……………..

No comments:
Post a Comment