Perjalanan menggapai puncak saya berlanjut tak lama setelah saya berhasil mencapai puncak pertama saya, puncak 2392 m dpl, puncak Bromo. Sekitar 2 minggu setelah keberhasilan itu, saya diajak salah satu teman saya untuk mengikuti acara kemah di kaki gunung Andong dalam acara penanaman pohon yang diadakan oleh Forum Komunikasi Kader Konservasi Indonesia di Jawa Tengah. Tanpa pikir panjang, saya mengiyakan ajakan teman saya itu, karena saya suka camping, lagipula di kaki gunung Andong, gunung yang belum berhasil saya taklukan.
Sebenarnya beberapa bulan
sebelumnya, saya pernah berkunjung ke gunung ini bersama beberapa teman saya.
Kami berniat untuk mendaki Gunung Andong. Tapi ternyata kami salah gunung, bisa
dibayangkan, mendaki tapi salah gunung. Ya kami salah karena tak ada satu pun
dari kami yang pernah mendaki gunung Andong dan kami nekat mendaki dengan hanya
bermodalkan satu orang teman anggota mapala yang mungkin saja tahu bagaimana
untuk mencapai puncak. Tapi perkiraan kami salah, kami bukan melalui jalan yang
benar, kami hanya menaiki lereng-lerengnya yang bukan main sulit untuk didaki,
karena kami harus menaiki medan tanah yang terjal. Itulah pendakian gunung
Andong saya yang pertama tetapi tak berhasil sampai ke puncak.
Saya berangkat dari kampus sore
hari dan langsung menuju ke tempat perkemahan di kaki gunung Andong dengan
motor berboncengan dengan teman yang mengajak saya. Perjalanan kami lalui
selama kurang lebih satu jam. Mendekati lokasi perkemahan, jalan yang harus kami
lalui lumayan terjal, dengan 2 orang yang membawa barang cukup banyak, ternyata
motor saya tidak kuat membawa kami berdua. Terpaksa saya turun dari motor dan
berjalan dengan teman lain yang motornya juga tidak kuat. Tapi beruntung ada
mobil bak terbuka yang mau menolong kami, mengantarkan kami sampai di gerbang
bumi perkemahan, sehingga kami tak perlu susah-susah berjalan naik. Sampai di
lokasi, sudah banyak teman yang menunggu di dalam tenda yang datang terlebih dahulu dan juga peserta
lain yang berasal dari berbagai kota di Jawa Tengah. Karena hujan mengguyur kawasan
Grabag cukup deras, tempat dimana gunung Andong kokoh berdiri, kami tak
melakukan aktivitas apapun sampai malam hari saat hujan reda. Setelah hujan
reda, kami berkumpul mengelilingi api unggun yang sebelumnya telah dibuat oleh
panitia dan kami melakukan sedikit upacara dan mendengarkan sambutan-sambutan
sebagai acara pembukaan. Setelah itu kami hanya mengobrol dan saling berkenalan
dengan peserta lain hingga larut malam.
Malam semakin gelap tapi tak
segelap warna hitam karena ada cahaya bulan yang menemani tidur kami. Kami
bersiap tidur di dalam Sleeping Bag kami masing-masing karena udara yang cukup
dingin dan kebetulan tenda kami bukan tenda yang tertutup, terbuka sangat lebar
di kedua sisinya. Tapi beruntung udara kaki gunung tak sedingin udara di
puncak, sehingga saya tetap merasakan hangat dalam sleeping bag saya.
Pagi menjelang, kami bangun dan
mempersiapkan diri kami. Menyiapkan makanan untuk sarapan pagi, ya menyiapkan
makanan special pendakian, mie instant. Setelah makan, kami melakukan olahraga
ringan sebagai pemanasan sebelum pendakian dan menanam pohon di Gunung Andong.
Kami bersenang-senang dan bercanda.
Sampai tiba saatnya pukul 8,
waktunya kami naik gunung dan bersiap menanam pohon. Kami berangkat
bersama-sama tanpa dibentuk kelompok-kelompok karena gunung Andong yang
tingginya tidak terlalu menjulang, hanya 1463 m dpl, dan medan yang tidak
terlalu menyusahkan, bukan seperti medan yang harus saya lalui bersama
teman-teman saat salah gunung. Ada sedikit kendala saat saya mulai mendaki,
jari-jari kaki kanan terasa kram, mungkin karena saya belum terbiasa dan jarang
olahraga. Tapi itu bukan jadi masalah besar karena saya tetap bisa melanjutkan
pendakian. Saya bertekad harus mencapai puncak pada pendakian kali ini, karena
pendakian pertama saya yang bisa dikatakan gagal.
Pendakian pagi hari ternyata
sangat berat, karena saya seperti kehabisan tenaga, treknya yang terus menanjak
tanpa ada bonus satu pun menjadi trek saya pagi itu. Beruntung di tengah-tengah
perjalanan, ada 2 sumber air dari pipa, sehingga bisa menjadi pengisi energi.
Setelah minum beberapa tegukan air itu, badan menjadi segar kembali dan
semangat yang mulai luntur itu muncul kembali, tekad untuk mencapai puncak pun
semakin besar. Pokoknya saya harus sampai puncak, itu yang terus ada di pikiran
saya saat itu.
Setelah berjalan sekitar 1,5
jam, saya memutuskan untuk menanam pohon di tanah itu. Saya meminta sebatang
pohon pada seorang teman, dan menanamnya disana. Semoga pohon yang saya tanam
bersama teman-teman bisa menjadi penopang kelangsungan Gunung Andong untuk
tetap berdiri dan memancarkan pesonanya pada kami dan bisa menjaga ekosistem
yang ada di Gunung Andong. 2 jam perjalanan yang ditemani kabut tebal di
sekeliling kami akhirnya berakhir di puncak yang penuh dengan kabut pula,
sehingga kami sama sekali tidak mendapatkan pemandangan indah Gunung Telomoyo
dan Merbabu. Tapi tak mengapa, kepuasan saya untuk mencapai puncak tetap
tinggai dan hasrat saya untuk menaklukan puncak Andong sudah terpenuhi hari itu
juga. Terimakasih Tuhan karena saya mencapai puncak kedua saya.
Kepuasan yang tidak bisa
diungkapkan dengan kata-kata akan selalu saya dapatkan setiap saya mencapai
puncak gunung. Itu seperti perasaan bahagia yang tak terkira karena sanggup
menaklukan gunung yang tinggi menjulang.
Gunung, yang selalu mampu
membuat saya jatuh hati……………..

No comments:
Post a Comment