Saturday, September 1, 2012

Gunung Sumbing (24 Juni 2012)



Gunung terdingin dan trek terberat di Jawa Tengah saya taklukan Sabtu-Minggu bulan lalu.
Tidak menyangka saya bisa menginjakkan kaki saya di puncak Gunung Sumbing yang selalu terlihat dan menarik perhatian saya dari lantai 2 kampus saya.
Sebenarnya saya yang menyusun rencana dan menentukan jadwal untuk muncak Gunung Sumbing ini karena memang keinginan untuk menaklukanny begitu besar, saya sudah membayangkan jika berhasil menaklukannya, ketika melihat gunung gagah itu dari lantai 2 kampus saya, saya akan merasa bangga, dan dalam hati berkata, “Saya sudah berhasil menaklukannya.” Saya sudah tentukan hari Sabtu-Minggu sebelum ujian kami berangkat, dan teman saya setuju. Mulailah kami mengumpulkan masa untuk ikut dalam pendakian kami ini. Awalnya sekitar 10 orang akan ikut dalam perjalanan ini, tapi ya seperti biasa, melorot sampai hari-H, hanya 7 orang yang memutuskan untuk berangkat. Dan bisa ditebak, lagi-lagi saya “the single fighter” dalam penaklukan Gunung Sumbing ini, karena tau lah, betapa susahnya mengajak teman perempuan untuk ikut. Sehari sebelum pemberangkatan, saya persiapkan semua peralatan, dan memasukkannya ke dalam tas. Setelah itu saya angkat, dan beratnya. Saya timbang tas itu, dan tau berapa berat tas yang akan saya gendong sampai ke puncak, 7 kilo teman-teman. Tapi itu sih belum seberapa, karena temen saya kadang harus membawa beban 15-20 kilo, wow.
Tepat Sabtu siang jam 12 kami berangkat naik bis, tapi tidak langsung menuju basecamp karena sebelumnya kami harus kondangan dulu ke tempat temen di Temanggung. Alhasil baru sekitar jam 5 kami sampai basecamp kemudian mendaftar dan langsung melakukan perjalanan menuju puncak dengan bekal peta pendakian dan larangan-larangan dari basecamp. Sabtu itu ramai sekali karena banyak rombongan yang akan muncak, tapi ternyata kami rombongan pertama yang berangkat.
Betapa senangnya hati saya, lagi-lagi bisa merasakan sensasi naik gunung dengan teman-teman yang berbeda. Perjalanan awal bisa dibilang lancar karena kami belum menemukan trek yang sulit. Tapi setelah memasuki perkebunan tembakau warga, Masya Allah, treknya sangat terjal. Sudah terbayang betapa beratnya trek di depan mata saya ini dan saya tidak membayangkan bagaimana kami harus turun keesokan harinya. Banyak istirahat, ya itulah yang kami lakukan karena saya benar-benar tepar menaklukan trek Sumbing, ditambah lagi kaki yang sering kram karena jarang olahraga.
Perjalanan selama 8 jam kemarin sungguh menakjubkan, bagaimana kami merasakan betapa dinginnya Sumbing, sepinya, tapi tak lupa indahnya yang diberikan. Satu spot yang selalu terngiang di benak saya adalah pestan, Pasar Setan. Malam itu, saya tak habis pikir sama teman saya yang mengajak isrirahat lama di pestan, tapi ketakutan saya tertutup dengan rasa ngantuk yang sangat, sehingga saya selalu tertidur setiap istirahat. Batu-batu besar, tahan berpasir, dan jalan terjal kami lalui sekitar 8 jam, dan akhirnya kami memutuskan untuk nge-camp di Watu Kotak karena sudah kelelahan dan lapar. Tempatnya lumayan luas dan datar, sehingga kami bisa mendirikan 2 tenda. Setelah mendirikan tenda, kami membuat api unggun dan menyiapkan makan malam kami yang aduhai indahnya, di gunung lho, meskipun hanya pake mi instant.
Setelah mengisi perut yang sudah kosong, kami memutuskan untuk tidur karena paginya kami akan melanjutkan perjalanan munuju Puncak 3371 m dpl.
Pukul 5 pagi alarm saya berbunyi, tapi hanya saya matikan dan tertidur lagi sampai pukul 5.45. Pagi itu, saya buka pintu tenda, dan alam langsung menyuguhkan indahnya Gunung Sindoro pagi itu. Langsung saya bangunkan semua teman-teman untuk menikmati betapa indahnya ciptaan Tuhan ini. Kami benar-benar takjub dengan pemandangan yang Sumbing suguhkan pagi itu. Jika sebelumnya Sumbing hanya bisa saya nikmati dengan memandangnya, tapi kemarin saya menginjakkan kaki saya disana. Dan hari itu adalah hari keberuntungan saya, karena akhirnya saya dapatkan sunrise yang indah dari gunung, tanpa ada kabut sama sekali. Terimakasih Tuhan atas kesempatan itu.
Tak cukup sampai disitu saja keindahan dan pesona alam dari Gunung Sumbing. Pukul 8 pagi setelah sarapan dan puas menikmati pemandangan dari Watu Kotak, kami melanjutkan perjalanan ke Puncak Sumbing, tapi tak semua orang dari rombongan kami berangkat, 2 orang tetap tinggal di tenda karena katanya nggak sanggup sama tebing-tebing yang harus dilalui. Jadilah kami berangkat berlima, namun ada tambahan 2 orang yang bareng dari luar rombongan kami. Berangkatlah kami bertuju menaklukan Puncak Sumbing.
Treknya tidak jauh beda dengan trek yang kami lalui malam sebelumnya, bebatuan terjal, dan ditambah dengan tebing-tebing yang kanan dan kirinya jurang. Tapi perjuangan menuju puncak itu sangat terbayar dengan indahnya puncak Sumbing. Tuhan ciptaanMu memang menakjubkan.
Setelah puas di atas, kami turun menuju tempat camp, dan mulai membereskan barang-barang kami, siap untuk turun. Inilah saat-saat terberat buat saya, jalan turun yang sudah menanti. Meskipun energy yang dibutuhkan lebih sedikit, tapi susahnya melebihi saat naik. Belum lagi trek tanah berpasir yang tidak saya sukai, panjang sekali, berkali-kali harus jatuh, dan mereka para lelaki itu malah menertawakan saya bukannya dibantuin. Disinilah cerita saya, bisa dibayangkan trek sesulit itu harus saya lalui sendirian, mereka dengan teganya meninggalkan saya jauh, kawan, sungguh tidak berperikemanusiaan, meninggalkan perempuan satu-satunya dalam rombongan, tega dan jahat sekali mereka-mereka itu sama saya. saya ditinggal dari pos 2 sampai pos 1, mereka dengan santainya tiduran di pos 1 sambil menunggu saya.
Lagi-lagi kehabisan air, dan kami harus tetap bertahan sampai bawah dari pos 2 tanpa air, kawan. Jalan terjal saat naik harus kami lalui turun. Padahal kaki ini sudah tak sanggup lagi melangkah, belum lagi lutut-lutut yang sering nekuk sendiri menjadi penghalang. Ingin rasanya segera mengakhiri perjalanan turun ini, kenapa berat sekali rasanya. Ya Allah Tuhan, berats sekali trek Sumbing.
Jam 5.30 sore akhirnya kami sampai di bawah. Terimakasih Tuhan karena akhirnya kami sampai di bawah dengan selamat tanpa suatu kekurangan apapun. Langsung mencari warung terdekat, dan habislah minum sebotol karena saking hausnya.
Sempat terbersit dalam pikiran saya untuk tidak lagi-lagi menaklukan gunung terdingin ini. Tapi entahlah, akan saya ikuti saja kemana kaki ini akan melangkah. Jika dia melangkah, tak akan kupaksa untuk melawan……….
Terimakasih atas trek dan indah yang disediakan, Sumbing…………….
Dan sudah kusiapkan mimpi-mimpi penaklukan selanjutnya yang siap untuk diwujudkan. 

No comments:

Post a Comment