Gunung terdingin dan trek terberat di Jawa Tengah saya taklukan Sabtu-Minggu bulan lalu.
Tidak menyangka saya bisa
menginjakkan kaki saya di puncak Gunung Sumbing yang selalu terlihat dan
menarik perhatian saya dari lantai 2 kampus saya.
Sebenarnya saya yang menyusun
rencana dan menentukan jadwal untuk muncak Gunung Sumbing ini karena memang
keinginan untuk menaklukanny begitu besar, saya sudah membayangkan jika
berhasil menaklukannya, ketika melihat gunung gagah itu dari lantai 2 kampus
saya, saya akan merasa bangga, dan dalam hati berkata, “Saya sudah berhasil
menaklukannya.” Saya sudah tentukan hari Sabtu-Minggu sebelum ujian kami
berangkat, dan teman saya setuju. Mulailah kami mengumpulkan masa untuk ikut
dalam pendakian kami ini. Awalnya sekitar 10 orang akan ikut dalam perjalanan
ini, tapi ya seperti biasa, melorot sampai hari-H, hanya 7 orang yang
memutuskan untuk berangkat. Dan bisa ditebak, lagi-lagi saya “the single
fighter” dalam penaklukan Gunung Sumbing ini, karena tau lah, betapa susahnya
mengajak teman perempuan untuk ikut. Sehari sebelum pemberangkatan, saya
persiapkan semua peralatan, dan memasukkannya ke dalam tas. Setelah itu saya
angkat, dan beratnya. Saya timbang tas itu, dan tau berapa berat tas yang akan
saya gendong sampai ke puncak, 7 kilo teman-teman. Tapi itu sih belum seberapa,
karena temen saya kadang harus membawa beban 15-20 kilo, wow.
Tepat Sabtu siang jam 12 kami
berangkat naik bis, tapi tidak langsung menuju basecamp karena sebelumnya kami
harus kondangan dulu ke tempat temen di Temanggung. Alhasil baru sekitar jam 5
kami sampai basecamp kemudian mendaftar dan langsung melakukan perjalanan
menuju puncak dengan bekal peta pendakian dan larangan-larangan dari basecamp.
Sabtu itu ramai sekali karena banyak rombongan yang akan muncak, tapi ternyata
kami rombongan pertama yang berangkat.
Betapa senangnya hati saya,
lagi-lagi bisa merasakan sensasi naik gunung dengan teman-teman yang berbeda.
Perjalanan awal bisa dibilang lancar karena kami belum menemukan trek yang
sulit. Tapi setelah memasuki perkebunan tembakau warga, Masya Allah, treknya
sangat terjal. Sudah terbayang betapa beratnya trek di depan mata saya ini dan
saya tidak membayangkan bagaimana kami harus turun keesokan harinya. Banyak
istirahat, ya itulah yang kami lakukan karena saya benar-benar tepar menaklukan
trek Sumbing, ditambah lagi kaki yang sering kram karena jarang olahraga.
Perjalanan selama 8 jam kemarin
sungguh menakjubkan, bagaimana kami merasakan betapa dinginnya Sumbing,
sepinya, tapi tak lupa indahnya yang diberikan. Satu spot yang selalu terngiang
di benak saya adalah pestan, Pasar Setan. Malam itu, saya tak habis pikir sama
teman saya yang mengajak isrirahat lama di pestan, tapi ketakutan saya tertutup
dengan rasa ngantuk yang sangat, sehingga saya selalu tertidur setiap
istirahat. Batu-batu besar, tahan berpasir, dan jalan terjal kami lalui sekitar
8 jam, dan akhirnya kami memutuskan untuk nge-camp di Watu Kotak karena sudah
kelelahan dan lapar. Tempatnya lumayan luas dan datar, sehingga kami bisa
mendirikan 2 tenda. Setelah mendirikan tenda, kami membuat api unggun dan
menyiapkan makan malam kami yang aduhai indahnya, di gunung lho, meskipun hanya
pake mi instant.
Setelah mengisi perut yang sudah
kosong, kami memutuskan untuk tidur karena paginya kami akan melanjutkan
perjalanan munuju Puncak 3371 m dpl.
Pukul 5 pagi alarm saya berbunyi,
tapi hanya saya matikan dan tertidur lagi sampai pukul 5.45. Pagi itu, saya
buka pintu tenda, dan alam langsung menyuguhkan indahnya Gunung Sindoro pagi
itu. Langsung saya bangunkan semua teman-teman untuk menikmati betapa indahnya
ciptaan Tuhan ini. Kami benar-benar takjub dengan pemandangan yang Sumbing
suguhkan pagi itu. Jika sebelumnya Sumbing hanya bisa saya nikmati dengan
memandangnya, tapi kemarin saya menginjakkan kaki saya disana. Dan
hari itu adalah hari keberuntungan saya, karena akhirnya saya dapatkan sunrise
yang indah dari gunung, tanpa ada kabut sama sekali. Terimakasih Tuhan atas kesempatan
itu.
Tak cukup sampai disitu saja
keindahan dan pesona alam dari Gunung Sumbing. Pukul 8 pagi setelah sarapan dan
puas menikmati pemandangan dari Watu Kotak, kami melanjutkan perjalanan ke
Puncak Sumbing, tapi tak semua orang dari rombongan kami berangkat, 2 orang
tetap tinggal di tenda karena katanya nggak sanggup sama tebing-tebing yang
harus dilalui. Jadilah kami berangkat berlima, namun ada tambahan 2 orang yang
bareng dari luar rombongan kami. Berangkatlah kami bertuju menaklukan Puncak
Sumbing.
Treknya tidak jauh beda dengan
trek yang kami lalui malam sebelumnya, bebatuan terjal, dan ditambah dengan
tebing-tebing yang kanan dan kirinya jurang. Tapi perjuangan menuju puncak itu
sangat terbayar dengan indahnya puncak Sumbing. Tuhan ciptaanMu memang
menakjubkan.
Setelah puas di atas, kami turun menuju
tempat camp, dan mulai membereskan barang-barang kami, siap untuk turun. Inilah
saat-saat terberat buat saya, jalan turun yang sudah menanti. Meskipun energy
yang dibutuhkan lebih sedikit, tapi susahnya melebihi saat naik. Belum lagi
trek tanah berpasir yang tidak saya sukai, panjang sekali, berkali-kali harus
jatuh, dan mereka para lelaki itu malah menertawakan saya bukannya dibantuin.
Disinilah cerita saya, bisa dibayangkan trek sesulit itu harus saya lalui
sendirian, mereka dengan teganya meninggalkan saya jauh, kawan, sungguh tidak
berperikemanusiaan, meninggalkan perempuan satu-satunya dalam rombongan, tega
dan jahat sekali mereka-mereka itu sama saya. saya ditinggal dari pos 2 sampai
pos 1, mereka dengan santainya tiduran di pos 1 sambil menunggu saya.
Lagi-lagi kehabisan air, dan kami
harus tetap bertahan sampai bawah dari pos 2 tanpa air, kawan. Jalan terjal
saat naik harus kami lalui turun. Padahal kaki ini sudah tak sanggup lagi
melangkah, belum lagi lutut-lutut yang sering nekuk sendiri menjadi penghalang.
Ingin rasanya segera mengakhiri perjalanan turun ini, kenapa berat sekali
rasanya. Ya Allah Tuhan, berats sekali trek Sumbing.
Jam 5.30 sore akhirnya kami sampai
di bawah. Terimakasih Tuhan karena akhirnya kami sampai di bawah dengan selamat
tanpa suatu kekurangan apapun. Langsung mencari warung terdekat, dan habislah
minum sebotol karena saking hausnya.
Sempat terbersit dalam pikiran
saya untuk tidak lagi-lagi menaklukan gunung terdingin ini. Tapi entahlah, akan
saya ikuti saja kemana kaki ini akan melangkah. Jika dia melangkah, tak akan
kupaksa untuk melawan……….
Terimakasih atas trek dan indah
yang disediakan, Sumbing…………….
Dan sudah kusiapkan mimpi-mimpi
penaklukan selanjutnya yang siap untuk diwujudkan.

No comments:
Post a Comment